Selasa, 01 Desember 2015

Marissa Karyawati Bank Itu Diculik

Gadis itu.. Tinggi badannya 170cm dengan postur tubuh yang sepadan hemm.. Lekuk bodinya yang sangat gitar itu sangat merangsang. Belum lagi pakaiannya yang tertutup tapi terbuka. He he hee.. Maksudku dia mengenakan blus merah yang tertutup dari lehernya dengan berkerah shang-hai dengan kancing-kancing warna emas yang manis dan tertib berbaris dari leher hingga bagian bawah pinggangnya. Memakai rok warna hitam yang 10cm dari lutut, bersepatu mirip pantovel dengan tali yang melintang di bawah pergelangan kakinya.. Payudaranya yang berukuran 36B itu.. Rambutnya terurai panjang hingga punggung, wajahnya yang cantik nyaris serupa dengan penyiar sebuah stasiun TV Fifi Aleyda Yahya.

Marissa namanya, selalu mengusik kalbuku hingga kini. Aku mulai mengenalnya dalam sebuah pertemuan, dia adalah supervisor bagian valas disebuah bank terkemuka di ibukota. Kebetulan waktu itu tampil dalam business gathering sebagai penyanyi dari trio tiga cewek, teman sekerjanya.

Aku adalah seorang eksekutif.. Pernah gagal dalam pernikahan jadi kini sendiri kalau orang bilang sih duren, duda keren he he he. Sejak pertemuan business gathering, aku semakin tertarik padanya; dengan segala usahaku mencari tahu nomor ponselnya, kemudian aku menjadi nasabahnya.. He he he perlu modal juga nich untuk pe de ka te sehingga diam-diam aku bisa setiap hari menelponnya untuk ikut main valas. Pada suatu kesempatan yang baik, aku berhasil mengundangnya makan siang, keluar sebentar dari kantornya. Berusaha aku menyatakan ketertarikanku.. Dan dia menolaknya cukup halus namun terlalu tegas bahasanya hingga hati ini tersinggung, sakit rasanya hatiku saat cintaku nyata-nyata ditolaknya.

Dikesempatan lain saat aku menelponnya guna menanyakan kondisi valas hari itu, dilayaninya dengan dingin sehingga yang berkembang dari dalam hati ini adalah amarah yang begitu besar karena merasa harga diriku telah terinjak-injak.

*****

Marissa tak berkutik, matanya mendelik melihat wajahku.

"Haa.. Ha.. Ha.. Haa!!"

Sia-sia saja dia karena aku memakai topeng twinky winky teletubbies. Tangannya sudah terikat erat ke belakang oleh tali plastik warna kuning yang melilit dan melingkari buah dadanya yang menyembul. Menggenakan 'kostum sexynya' seperti saat aku memandangnya pertama kali itu. Blus merah itu lho.. Kakinya yang panjang dan sexy itupun sudah tak berdaya dan terikat jadi satu mulai dari kedua lututnya, kemudian kakinya yang bersepatu sexy itu. Oh.. Aku sungguh sangat terangsang melihat keadaannya yang sangat tidak berdaya itu. Aku adalah penggemar berat shibari hogtie ala Jepang yang sangat indah dan teliti dalam ikat mengikat. Hemh.. Ini juga salah satu kegagalan pernikahanku karena mantan istriku sangat tidak suka untuk aku ikat. Marissa masih meronta-ronta tak berdaya di apartemanku. Matanya akhirnya aku tutup dengan lakban sebagaimana aku menyumbat mulutnya. Bagaimana dia bisa ada di kamarku? Biar pembaca tidak penasaran.. Beginilah ceritanya.

Waktu itu menunjukkan kira-kira jam 23.00. Suasana di jalan relatif sepi di Senin malam itu. Lama telah aku pelajari bahwa di akhir bulan Marissa biasanya pulang jam 23.00 dan mengendarai taxi. Aku telah memarkirkan Mitsubishi Kudaku 10 meter sebelum kantornya.. Biasanya Marissa pasti berjalan sejauh itu untuk mencari taxi karena tidak ingin bersaing dengan pemakai taxi lainnya. Aku berdiri di sisi jalan dengan kepala bertopi dan berkacamata hitam. Secepat kilat aku menyambar mulutnya dengan saputangan yang mengandung cloroform. Marissa langsung lemas.. Langsung aku angkut ke dalam jok mobil belakang. Serta dengan langkah awal pengamanan aku sumbat mulutnya dengan lakban serta mengikat tangannya ke belakang dengan lakban yang sama.

Aku bergerak meninggalkan tempat itu, melarikan mobilku ketempat yang lebih sepi. Ku parkir sejenak.. Kulihat Marissa masih belum sadar.. Hemm langsung aku pindahkan ke dalam sebuah koper besar yang sudah kusiapkan dibagasi. Lalu meluncurlah Kudaku menuju apartemant. Tanpa curiga apa-apa pihak keamanan hanya tersenyum saat aku tiba dan mendorong koperku itu masuk ke lift.. Naik ke lantai 14 masuk ke apartemanku 1404. Kubuka koperku, Marissa yang masih belum sadar itu aku ikat ulang dengan tali plastik kuning.. Yach begitulah ceritanya.

"Mmmpphh.. Mmmpphh.. Praanngg!!"

Lamunanku buyar saat kulihat Marissa meronta-ronta hingga kakinya menendang gelas wineku hingga terjatuh dan pecah!

"Crreett.."

Lakban yang menutup matanya aku lepas. Sementara aku sudah melepaskan topeng teletubbies yang kupakai. Sadar Marissa bahwa dia diculik olehku, matanya menunjukkan kebencian dan kemarahan namun hanya mmpphh.. mmpphh.. saja yang terdengar di kamarku.

"Oh Chachaku sayang.. Kalau kamu tidak menolak cintaku, kejadiannya tidak akan seperti ini.."

Wajahku menunjukkan penyesalan padanya lalu perlahan aku cabut lakban yang membungkamnya sambil mengancam.

"Awas kalau kamu berteriak..".
"Mmmpphh.. Haah.. Haah.." Marissa mengambil nafas.
"Apa yang kamu lakukan Mas Dody.. Di mana aku sekarang.. Lepaskan aku.. Lepaskan ugh.. Ugh," kalimat yang pasti akan keluar dari mulut Marissa sambil meronta-ronta.
"Wallah.. Kamu ini lucu sekali.. Mana mungkin aku lepasin kamu ha.. Ha.. Ha.. Haa..!"
"Tenanglah Chacha, kamu aman di sini.. Salahmu menolak cintaku beginilah akibatnya..!"
"Apa yang Mas mau dari saya? Kenapa Mas menculik saya?" tanyanya
"Sudah..!! Kamu diam dulu.. Kalau enggak aku lakban lagi mulutmu!!" ancamku seraya bersiap-siap merobek lakban..
"Jangan Mas.. Jangan"

Lalu aku bopong Marissaku yang terikat itu ke kamar tidur yang satu lagi di apartemanku. Aku baringkan dia di tempat tidur itu serta menutup tirai-tirai yang ada di kamar itu serta membiarkannya terikat disitu dengan lampu menyala.

"Selamat beristirahat Chacha.. Semoga kamu betah disini.." ledekku kemudian mengunci kamar itu dari luar.

Jadilah Marissa terikat erat dan disekap di salah satu kamar di apartemanku. Di kamar itu sudah aku siapkan kamera ccTV yang sangat kecil terpasang tepat menyoroti tempat tidur sehingga aku dengan mudah memonitor keberadaannya dari kamar tidurku. Malam itu aku membiarkan Marissa 'menikmati' keberadaannya di kamar itu. Aku hanya mengamatinya dari kamarku saat melihatnya bergerak meronta-ronta di kamarnya.

Pagi itu aku sempat menengoknya di kamarnya lalu kusuapi dirinya dengan sarapan pagi nasi goreng buatanku.

"Siapa yang masak Mas.." Marissa yang sudah agak tenang, dalam keadaan terikat erat, mulai membuka pembicaraan.
"Siapa lagi?" balasku bertanya.
"Mas.. Aku mesti ke kantor nich.. Lepasin dong.."
"Kamu bohong.. Kamu khan baru mulai cuti 2 (dua) minggu.." sergahku.
"Wah kok Mas tahu??"
"Senin siang aku telpon kamu mau tanya Euro, seperti biasa kamu dengan sombongnya menolak telponku.. Tanpa sengaja kolegamu bilang kamu mau cuti besok.. Nah berliburlah kami disini haa.. Ha.. Ha.. Haa..!"

Sejenak wajah cantik yang agak tenang itu berubah khawatir.. Aku memang sudah mempelajari kehidupannya. Marissa yang mandiri ini memang hidup jauh dari Ayahnya di Surabaya. Ibunya sudah wafat 5 tahun yang lalu dan Ayahnya kawin lagi. Marissa mengontrak di salah satu rumah susun yang cukup representatif di kawasan Benhil. Jadi bagiku sungguh tepat momentum yang kudapatkan untuk menculiknya. Usai sarapan dan minum teh hangat, mulutnya aku jejali saputangan yang masih mengandung cloroform.. Lalu aku sumbat lagi dengan lakban, kembali Marissa tertidur lalu aku mengunci kamarnya dan meninggalkannya untuk pergi ke kantor.

Sebagai seorang eksekutif, jam kerjaku lebih fleksible. Jam 13.00 aku mampir ke rumah untuk melihat keadaan tawananku.

"Halo Chacha.. Kamu tidak nakal di rumah khan??" sapaku.
"Mmmpphh.. Mmpphh.." jawabnya.
"Bentar.. Bentaarr.." lalu aku buka lakbannya. "Lapar yaa?"
Marissa hanya mengangguk.. Lalu "Mau pipis.." lanjutnya.
Langsung aku membopongnya dipundakku, membawanya ke toilet.. Menyingkapkan roknya ke atas, menurunkan pantynya dalam keadaan kaki masih terikat serta menunggunya.
"Maass, sudah.."
Aku bantu dia membersihkan vaginanya lalu aku bopong kembali ke kamarnya.
"Chacha.. Baik-baik ya kamu di sini.. Jangan macem-macem, nanti jam 18.00 aku kembali," ujarku sambil membiarkannya terikat tanpa menyumbat mulutnya.

Dua hari sudah aku menyekap Marissa di rumahku. Hari-hari dijalaninya dengan ketidak berdayaan. Aku belum berniat melakukan apa-apa pada dirinya, hingga pada suatu hari. Aku pulang agak malam dan agak mabuk karena terlalu asyik dengan mitra kerjaku. Aku sangat bernafsu saat melihatnya tertidur pasrah terikat di kamarnya. Mulutnya hari ittu kembali aku lakban.. Ough naluriku bangkit saat melihatnya hari itu tetap terlihat sexy. Tanpa ia sadari.. Aku lepaskan ikatan di kakinya namun melipat dan mengikatnya ke betis masing-masing, setelah sebelumnya celana dalamnya aku lepaskan.

"Aaarrgghh.." suara Marissa terkejut saat tanpa basa-basi aku memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang masih kencang itu dan disambut darah segar keperawanannya. Serta merta aku menggenjot tubuh Marissa mulai dari perlahan hingga semakin cepat berirama.
"Ooh.. Oh.. Ooohh..!" desah Marissa.
"Aaahh.." puas diriku berejakulasi pada rahim Marissa seiring sprema yang menyembur tumpah ruah ke rahimnya lalu terkulai lemas di sisi Marissa.

Lalu aku membelai-belai rambutnya yang panjang terurai itu sambil berbisik,

"Aku pasti mengawinimu Chacha.. Aku akan menjadi ayah untuk anakmu"

Marissa hanya bisa menangis terisak-isak.

Sejak kenikmatan itu, aku selalu memuaskan nafsuku untuk terus-menerus memperkosa Marissaku yang sexy itu. Hidup yang penuh kesendirian ini menjadi begitu bergairah. Setiap hari itu juga aku tunjukkan cintaku dan perhatianku padanya, meski tidak pernah aku lepaskan ikatan di tubuhnya. Dalam masa penculikan itu, Marissa mulai ketagihan dan tidak jarang dia yang mulai meminta.

"Mas Dody.. Perkosa aku dong.." Aku lihat Marissa tidak sedang pura-pura; nyaris seminggu dia disekap di apartemanku membuatnya ketagihan dengan gaya pemerkosaanku.

Sekali ini untuk pertama kalinya aku 'memperkosa'nya dengan foreplay, he he he mana bisa begitu ya.. Tapi hari makin hari mungkin Marissa merasakan sayang dariku meski segalanya berawal dari sebuah penculikan. Namun aku bisa rasakan bahwa dia mulai mencintaiku. Tidak adalagi permintaannya untuk melepaskan ikatannya karena hari ke dua ke tiga aku sempat melepasnya untuk mandi dan hanya terbelenggu borgol pada kedua tangannya atau kadang hanya mengikat kakinya dengan rantai yang biasa dipakai untuk anjing.. Atau sesekali membiarkannya terikat rantai anjing itu di sebuah pilar yang ada di apartemanku. Jadi tidak selamanya Marissa terikat seperti manakala pertama kali aku culik. Memang aku belum terlalu yakin 100% kalau dia tidak akan melarikan diri. Tapi yang aku tahu pasti, aku senang melihatnya terikat karena gairahku akan bangkit dan pada akhirnya bisa membahagiakannya.

Memasuki minggu kedua.. Sisa 4 hari lagi Marissa akan kembali bekerja; aku mengembalikan keberadaannya sebagaimana korban penculikan.. Aku jadi sangat tidak ingin melepaskannya.. Aku berniat menculiknya dan mengikatnya selama-lamanya.

TAMAT

Malapetaka KKN - Terjebak Rayuan

Clara adalah satu-satunya mahasiswi yang tidak punya pacar. Dia baru saja putus dengan pacarnya yang ketahuan selingkuh dengan temannya sendiri. Tapi Clara adalah tipe gadis yang periang, sehingga dia tidak terlalu memusingkan hubungannya yang bubar karena prselingkuhan sang pacar. Dia bahkan mengatakan justru lebih senang sendirian ketimbang harus kesana-kemari jalan berduaan dan terikat satu sama lain. Sifat periangnya itu pula yang membuatnya sekarang akrab dengan salah satu pemuda desa yang bernama Jono.

Banyak yang bilang kalau mereka sebenarnya serasi, Jono meskipun anak desa tapi bunya wajah yang menarik, sifatnya juga kalem dan pendiam, serasi dengan Clara yang ramai dan tentunya cantik. Clara punya tubuh yang bagus, tingginya sekitar 168 cm dengan payudara 34B. Clara juga bekerja sampingan sebagai fotomodel di luar tugasnya sebagai mahasiswi jurusan Sastra. Kebetulan pula mereka punya minat yang sama dalam dunia buku. Beberapa kali Clara dan Jono terlihat berdiskusi berdua dan sekali dua kali terlihat mereka berjalan berduaan untuk kepentingan KKN Clara.

Hari itu Clara terlihat bersiap untuk pergi, rupanya dia dan Jono ada janji unutuk pergi mengunjungi desa sebelah guna membicarakan kerja sama program KKN nya dengan salah satu kelompok di desa sebelah. Sepanjang perjalanan Jono terlihat diam sekali, nyaris tidak bicara sepatahpun. Clara melihat keanehan ini, meskipun dia maklum karena Jono memang pendiam. Tapi mendadak setelah agak jauh berjalan, Clara entah bagaimana merasa gelisah. Seperti ada sesuatu yang menggelayuti hatinya dengan perasaan aneh.

Perasaan Clara makin gelisah ketika Jono mengajaknya ke sebuah rumah yang sma sekali tidak dikenalnya, rumah itu terletak sangat terpencil, jauh dari rumah penduduk yang lain bahkan bisa dibilang tersembunyi oleh pepohonan yang tumbuh di sekitarnya.

Kok kita ke sini Jon? Kita kan mau ke desa sebelah? Clara bertanya dengan nada sedikit curiga.

Kita mampir sebentar, ini rumah teman saya, kata Jono dengan nada gemetar tidak wajar.

Tapi kayaknya rumah nin agak menyeramkan, Clara menghentikan langkahnya. Aku ngeri nih.

Jangan takut Clara, kita cuma mampir sebantar kok. Kata Jono lagi.

Tapi.. Clara ragu-ragu untuk meneruskan langkahnya.

Ayo, jangan takut, nggak ada apa-apa, Jono memaksa. Ayo... jangan takut.

Akhirnya meskipun dengan masih sedikit ragu, Clara mengikuti Jono yang masuk ke rumah itu. Rumah itu cukup besar meski terkesan tidak terawat. Diding rumahnya terbuat dari bata yang belum dipoles, menampakkan batu bata merah yang saling bersambungan. Oleh Jono, Clara disuruh menunggu di sebuah kamar yang jendelanya tertutup dan berterali besi. Clara agak jengah menatap kamar berukuran 3 kali 3 meter itu. Dindingnya tertempel banyak sekali poster dan gambar wanita cantik yang hanya memakai bikini super mini dengan berbagai pose. Clara duduk di sebuah ranjang besar yang ada di tengah kamar, ranjang itu bersih, dengan kasur yang dilapisi seprei merah dan berbau kamper.

Selama beberapa menit Clara menunggu membuatnya tidak sabar. Karena itu ketika terengar ada orang yang melangkah masuk, Clara langsung membalik.

Sudah selesai.... Clara tertegun, pertanyaannya spontan terputus oleh kekagetan. Dia menyangka tadinya Jono yang masuk ke dalam kamar, tapi yang ada sekarang adalah laki-laki gemuk dan agak botak, berumur, mungkin limapuluh atau enampuluh tahunan, terlihat dari kerut wajah dan uban di rambutnya yang tinggal sedikit. Laki-laki itu tersenyum senyum seperti orang gila sambil menelusuri sekujur tubuh Clara dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Siapa Bapak? Dimana teman saya..? Clara bertanya takut-takut sepertinya laki-laki itu akan menelannya hidup-hidup.

Oh.. ya.. laki-laki itu membuka suara. Nama Bapak Jamal, Bapak yang punya rumah ini. katanya dengan lagak sok penting, seolah dirinya semacam penguasa desa. Dan soal teman Neng, jangan kuatir, dia baik-baik saja, malahan dia tadi ada pesan buat Neng, supaya Neng Clara melayani kami dengan baik.

Melayani? Apa Maksud Bapak? Clara merasa merinding mendengar ucapan Pak Jamal yang bernada cabul itu.

Ah.. ya.. Bapak lupa memberitahu Neng sesuatu, Pak Jamal berjalan mendekati Clara, membuat Clara beringsut mundur.

Perlu Neng ketahui, Jono dan orang tuanya sebetulnya punya hutang pada Bapak. Sangat besar, sampai-sampai tidak akan mungkin dibayar oleh mereka Bahkan jika mereka bekerja seumur hidup pada Bapak.

Tapi apa hubungannya dengan saya? tanya Clara bingung.

Itu dia yang paling penting, ujar Pak Jamal datar. Bapak tahu Jono dekat dengan Neng Clara, jadi kami membuat kesepakatan, Jono dan keluarganya saya bebaskan dari hutang, asal dia bisa membawa Neng Clara ke sini.

Clara mulai gemetar memikirkan ucapan Pak Jamal berikutnya sambil berharap dugaannya salah.

Tapi.. apa maksud Bapak menyuruh Jono membawa saya ke sini..? Clara bertanya takut-takut, sekujur tubuhnya merinding meskipun saat itu cuaca tidak terlalu dingin.

Masa perlu diterangkan lagi sih Neng..? Pak Jono tersenyum liar sambil menjilati bibirnya sendiri. Bapak mau Neng Clara jadi piaraan Bapak, soalnya Bapak ingin merasakan gimana rasanya ngentotin cewek kota seperti Neng..

Clara seperti disambar petir mendengar ucapan Pak Jamal yang tanpa tedeng aling-aling itu. Spontan kemarahannya meledak.

TUA BANGKA TIDAK TAHU MALU!! Clara berteriak penuh emosi. Jangan mimpi saya sudi melayani anda!

Oh ya, Neng pasti mau saya entotin, bahkan malah akan memohon-mohon untuk saya entotin, Pak Jamal mengejek sambil tersenyum penuh makna. Neng tahu, saya orang paling kaya di sini, bahkan kepala desapun tunduk pada saya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada Neng dan semua teman-teman Neng kalau saya perintahkan seluruh penduduk desa untuk menyerang pondokan tempat Neng menginap. Mungkin penduduk desa akan membakar teman-teman Neng hidup-hidup, atau.. bagaimana kira-kira kalau saya perintahkan mereka supaya ditelanjangi terlebih dulu lalu kemudian diperkosa secara bergiliran di tengah lapangan sebelum dibakar hidup-hidup..

Clara terkesiap pucat mendengar ucapan Pak Jamal. Mungkin itu sekedar gertak sambal, tapi mungkin juga tidak, Clara tidak bisa berpikir jernih mendengar ucapan Pak Jamal yang bagaikan teror menggedor hatinya.

Anda.. anda bohong.. tidak mungkin penduduk percaya pada anda.. Clara menukas, meskipun dia sendiri ragu terhadap ucapannya barusan.

Kalau Neng tidak percaya ya terserah Neng, kita lihat saja siapa yang bohong. Desa ini terpencil dan jauh dari mana-mana Neng, tidak ada yang akan memperhatikan kalau rombongan KKN sebanyak itu mati mendadak, Pak Jamal beranjak pergi meninggalkan Clara yang galau. Clara menyadari sebagian yang diucapkan Pak Jamal benar. Bagaimana kalau Pak Jamal benar-benar menghasut warga untuk menyerang teman-temannya, lagipula Pak Jamal bisa saja memperkosa dirinya tanpa perlu membeberkan rencananya. Clara benar-benar kalut, pikirannya yang biasanya cemerlang mendadak buntu. Jantungnya seolah berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, kegalauan di hatinya menimbulkan perang batin yang luar biasa, apalagi saat Pak Jamal berjalan meninggalkannya.

Tu.. tunggu Pak Jamal.. Clara berkata parau mencegah langkah Pak Jamal, dia lalu berjalan menyusul Pak Jamal dengan langkah terburu-buru membuatnya nyaris terpeleset jatuh.

Ada apa Neng.. Pak Jamal pura-pura bego. Clara hanya berdiri mematung di hadapan Pak Jamal sampai akhirnya dia berkata.

Sa.. saya mau.. kata Clara lirih.

Mau..? Mau apaan? kembali Pak Jamal bertanya tolol. Clara merasa harga dirinya hancur dengan perlakuan Pak Jamal.

Saya mau melayani Pak Jamal asal Pak Jamal tidak menyakiti teman-teman saya.. kata Clara sambil terisak, sebutir air mata menetes di pipinya.

Wah.. perjanjian batal Neng.. saya yang sekarang tidak mau, ujar Pak Jamal sok jual mahal. Dia lalu membalikkan badannya dan meninggalkan Clara.

Jangan! Jangan pergi Pak..! Clara mengejar Pak Jamal dan menarik tangannya. Tolong jangan pergi. Saya mau Bapak setubuhi, saya mau Bapak entot sampai Bapak puas, nikmati saya.. nikmati tubuh saya..

Yang benar? Pak Jamal menyeringai puas. Coba ucapkan sekali lagi dengan manis.. sambil memohon tentunya.

Clara kembali tersedu, ucapan Pak Jamal yang tadi didengarnya, bahwa dirinya akan memohon-mohon untuk disetubuhi ternyata menjadi kenyataan.

Saya mohon Pak.. saya mohon, setubuhi saya, entoti saya semau Bapak, saya mau Bapak entoti, buruan Pak, Buruan entoti saya..

Yang sopan dong, masa sambil marah-marah begitu.. kata Pak Jamal mempermainkan dan melecehkan harga diri Clara. Clara merasa sangat terhina sekali, tapi dia tidak kuasa menolaknya, kahirnya dia paksakan diri untuk tersenyum.

Pak Jamal yang baik, saya mohon entotin saya Pak.. ujar Clara, kali ini sambil tersenyum semanis mungkin. Saya sudah kebelet Pak.. Saya mohon.. Entotin saya..

"Ooh Bapak musti bayar berapa buat ngentotin Neng?" tanya Pak Jamal pura-pura,Clara kebingungan sesaat harus menjawab apa, sampai kemudian Clara berujar lirih.

Ehh... gratis Pak.. Bapak nggak usah bayar.. saya sukarela kok, kata Clara akhirnya.

Hehehehe.. gratis ya? Jadi Neng sukarela ya? Bukan paksaan kan? tanya Pak Jamal sambil tertawa pelan.

Eh.. iya Pak.. saya nggak terpaksa.. jawab Clara tertahan.

Sekarang buka bajunya.. Bapak kepingin lihat kayak apa sih pentilnya cewek kota.. perintah Pak Jamal kalem tapi menusuk hati, seolah memerintahkan seorang pelacur murahan saja.

Jangan Pak.. jangan .. Clara kembali terisak. Tapi Pak Jamal memaksanya dengan ancaman mengerikan, mambuat Clara tidak berani menolak lagi. Clara dengan gemetar mulai menjamah bajunya, dilepaskannya kancing-kancing bajunya satu persatu, diiringi tegukan ludah Pak Jamal. Perlahan-lahan tubuh bagian atas Clara tersingkap saat baju itu jatuh ke lantai.

Uoohh.. muluss.. komentar Pak Jamal. Dia menatap liar ke tubuh putih itu. Terutama ke payudara Clara yang mencuat indah dan hanya tertutup BH berenda warna putih. Payudara itu terlihat sangat kencang dan montok, ukurannya terlihat lebih besar ketimbang saat Clara memakai baju. Sementara perut Clara terlihat ramping dan padat dan sangat rata, Clara memang termasuk hobi olah raga sehingga perutnya sangat kencang.

Celananya juga.. celananya juga..

Clara mulai menangis lagi mendengar perintah itu. Dia mulai melepaskan celana panjangnya lalu memelorotkan celana panjang itu. Sepasang paha putih berkilau langsung menjadi pemandangan yang sangat indah. Paha Clara benar-benar proporsional, tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil, membulat membentuk pinggul yang sempurna berakhir pada pinggang yang ramping. Bagian selangkangannya membentuk sebuah gundukan yang masih tertutup celana dalam putih berenda-renda.

Sekalian kutang sama celana dalamnya dong Neng... Perintah Pak Jamal datar. Clara terkesiap pucat. Clara tidak punya pilihan lain, dengan gemetar dia mulai meraih kait BH di bagian belakang punggungnya lalu perlahan BH itu merosot dari tempatnya, seketika sepasang payudara yang putih mulus mencuat telanjang di depan laki-laki tua itu, payudara yang sangat indah, bulat padat dan kenyal dengan puting berwarna merah muda segar. Clara secara reflek menutupi payudaranya dengan kedua lengannya. Tapi Pak Jamal segera melarangnya.

Siapa yang suruh menutupi, ayo sekarang copot itu celana dalam.

Clara tidak mampu berbuat banyak, dia menurut dan memelorotkan celana dalamnya sendiri. Sekarang Clara sudah bediri telanjang bulat di hadapan Pak Jamal, satu-satunya yang masih melekat di badannya Cuma kalung dan jam tangannya. Clara berusaha sekuat tenaga menutupi bagian-bagian vital tubuhnya dengan kedua belah tangannya meskipun dia tahu usahanya sia-sia.

Pak Jamal berdiri mematung memelototi tubuh mulus Clara yang bugil di hadapannya sambil berdecak-decak penuh birahi.

Astaga, bukan main mulusnya.. beda banget sama yang pernah Bapak bayangkan, Pak Jamal menantap liar ke bagian payudara Clara yang polos. Kemudian Pak Jamal mendekati Clara, lalu tangan nakalnya mulai bergerilya di bagian-bagian tubuh Clara yang tidak tertutup selembar benangpun itu, tangannya meraba-raba ke sekujur tubuhnya. Lalu perlahan Pak Jamal mulai menjamah payudara Clara dengan lembut dan mulai meremasnya pelan. Clara tersengat merasakan sentuhan tangan kasar itu di payudaranya. Sebuah sensasi aneh mulai melandanya, mambuat tubuhnya gemetar, darahnya seolah bergolak dan mafasnya perlahan mamburu tidak teratur.

Kemudian Pak Jamal mulai mencumbui payudara Clara, lidahnya menyapu-nyapu puting kemerahan yang sudah menegang itu. Clara hanya bisa mendongak dan mendesah merasakan sentyuhan bibir yang kasar itu pada kedua payudaranya. Clara menggelinjang mendapat perlakuan itu. Sambil bibirnya terus mengulum bibir Clara, tangan Pak Jamal juga memelintir-melintir puting payudara Clara dengan gerakan kasar. Belaian dan cumbuan Pak Jamal pada kedua payudara Clara membuat desakan sensasi di dalam tubuh Clara makin menggelora membuat Clara perlahan mendesah-desah dengan nafas tersengal.

tiba-tiba Pak Jamal memagut bibir dosennya itu dan melumatnya dengan kasar. Clara tersentak kaget, dia berusaha melepaskan ciuman itu, tapi Pak Jamal lebih cepat memegangi leher Clara dan membenamkan bibirnya di bibir Clara.

Mmmhh...! Clara sempat berontak selama beberapa saat namun ciuman dan belaian Pak Jamal pada daerah sensitifnya membuat dirinya seolah tidak bertenaga, tubuhnya mulai dikuasai oleh deskan libido membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Baru kali ini Clara melakukannya dengan laki-laki yang sama sekali jauh dibawahnya, tua gendut dan jelek, tapi Clara justru merasakan kenikmatan yang berbeda yang menggodanya untuk meneruskan lebih jauh.

Rangsangan dari dalam dirinya menyebabkan Clara menyambut ciuman Pak Jamal. Lidah mereka bertemu, saling jilat dan saling membelit. Sementara itu tangan Pak Jamal tetap meremas lembut payudara Clara, Clara sendiri sudah mulai berani mengelus punggung Clara. Dorongan birahinya yang menggelegak membuatnya diam saja saat Pak Jamal mulai membimbingnya dan membaringkannya di atas ranjang.

Perlahan belaian dan cumbuan Pak Jamal meluncur turun menyusuri perut Clara yang licin dan rata, sampai akhirnya wajahnya membenam di selangkangan Clara membuat Clara melenguh keras.

Mmhheengghhudah Pakk... ohhhh.... sshhnanti ada yang lihat...! desahnya merasakan kedua putingnya makin mengeras.

Tenang saja Neng, disini aman kok, rumah ini jauh dari tetangga, kita bisa senang-senang sepuasnya.. Pak Jamal berujar lembut. Selanjutnya Pak Jamal kembali membenamkan wajahnya pada kemaluan Clara dan dengan rakus menjilati vaginanya. Tangan kirinya mengelusi paha dan pantatnya, terkadang jarinya iseng menyusup ke pantat Clara.

AahhhPakaahhhjangan ! Clara mendesah antara menolak dan menikmati saat lidah Pak Jamal menelusuri gundukan bukit kemaluannya

Tanpa disadari kakinya melebar sehingga memberi ruang lebih luas bagi Pak Jamal untuk menjilatinya. Tubuh Clara seperti kesetrum ketika lidah Pak Jamal yang hangat membelah bibir kemaluannya memasuki liangnya serta menari-nari di dalamnya. Clara semakin tak kuasa menahan kenikmatan itu, dia bergerak tak karuan akibat jilatan Pak Jamal sehingga Pak Jamal harus memegangi kedua belah paha Clara.

Pakahhhoohh..... desahnya dengan tubuh bergetar merasakan lidah Pak Jamal memainkan klitorisnya. Clara menjerit kecil setiap kali lidah Pak Jamal menyentuh klitorisnya, sementara tangannya juga bermain meremasi pantat Clara. Tubuh Clara sudah basah oleh keringat, sekuat tenaga dia menahan desakan sensasi liar di dalam tubuhnya yang makin lama makin kuat sampai membuat wajahnya merah padam. Tapi Clara akhirnya menyerah, tubuhnya mengejang dahsyat dan tanpa sadar dia mendorongkan vaginanya sendiri ke wajah Pak Jamal dan menggerakkannya maju mundur dan bergerak liar menyentak-nyentak. Clara tidak dapat menahan diri lagi. Tubuhnya menggeliat dan menegang.

OOHHHKKHHHH.... AHHHH... Clara mengerang kuat-kuat seperti mengejan. Dan seketika itu pula cairan vaginanya muncrat keluar membasahi sprei. Tanpa sadar Clara mengalami orgasme untuk pertama kali, dan kemudian tubuhnya melemas di atas ranjang. Ketika Clara memandang ke atas, dilihatnya wajah tua gelap pria itu sedang menatapnya dengan takjub, segaris senyum terlihat pada bibirnya, senyum kemenangan karena telah berhasil menaklukkan korbannya.
Perlahan Pak Jamal mulai memuka pakaiannya sampai bertelanjang bulat di depan Clara. Clara dengan jijik melihat sekilas penis Pak Jamal yang cukup besar berwarna hitam itu sudah mencuat siap untuk menembus vaginanya. Sekarang Pak Jamal merangkak ke atas tubuh Clara dan mengatur posisi kaki Clara hingga terkuak mengangkang seperti kodok. Kini di atas ranjang dua tubuh telanjang berlainan jenis dan kasta telah siap melakukan persetubuhan. Yang wanita adalah seorang gadis kota yang terbaring tak berdaya setelah dijebak dengan tubuh yang langsing, kulit putih mulus dan wajah cantik rupawan. Sedangkan si pria di atasnya yang siap menyetubuhinya adalah seorang Tuan tanah hidung belang yang gendut berwajah jelek.

Pak Jamal perlahan menindih tubuh bugil Clara, membuat Clara merasakan dadanya sesak deperti diduduki kuda nil. Dna perlahan Pak Jamal memajukan pinggulnya membuat ujung penisnya mendesak maju menerobos bibir vagina Clara. Clara langsung menjerit kesakitan ketika kepala penis Pak Jamal mulai membuka bibir vaginanya. Dia tidak pakai kondom, Clara takut dirinya akan hamil akibat persetubuhan ini, meski begitu dia hanya bisa pasrah.

"Aduuhh... pelan-pelan Paakk... Clara merintih merasakan perih di vaginanya. Clara memang beberapa kali melakukan hubungan seksual dengan mantan pacarnya, namun penis Pak Jamal jauh lebih besar dari penis pacarnya membuatnya kesakitan.

Hehehehehe.. sakit ya Neng? Pelan-pelan nanti juga enak kok.. kata Pak Jamal mengejek sambil terus berusaha memasukkan penisnya lebih dalam. Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya masuklah seluruh penis Pak Jamal ke dalam vagina Clara. Saat itu airmata Clara meleleh lagi merasakan sakit pada vaginanya.

Huhhmasuk juga akhirnya, tempiknya Neng seret banget, Bapak suka yang kaya gini. katanya dekat telinga Clara.

Sesaat kemudian, Pak Jamal sudah menggoyangkan pinggulnya, mula-mula gerakannya perlahan, tapi makin lama kecepatannya makin meningkat. Clara benar-benar tidak kuasa menahan erangan setiap kali penis Pak Jamal menggenjot vaginanya. Gesekan demi gesekan yang timbul dari gesekan alat kelamin mereka menimbulkan rasa nikmat yang menjalari seluruh tubuh Clara sehingga matanya merem melek dan mulutnya megap-megap mengeluarkan rintihan.

Menit demi menit berlalu, Pak Jamal masih bersemangat menggenjot Clara. Sementara Clara sendiri sudah mulai kehilangan kendali diri, dia kini sudah tidak terlihat sebagai seseorang yang sedang diperkosa lagi, melainkan nampak hanyut menikmati ulah bajingan tua itu. Ketika memandang ke depan, dilihatnya wajah tua gelap pria itu sedang menatapnya dengan takjub, segaris senyum terlihat pada bibirnya. Pak Jamal mengenyot payudara Clara sambil menikmati goyangan pinggulnya. Kedua tangannya meraih sepasang gunung kembar itu, mulutnya lalu mencium dan mengisap putingnya secara bergantian. Perlakuan Pak Jamal itu membuat gejolak di dalam tubuh Clara kembali menggelegak, tanpa sadar Clara memeluk Pak Jamal dan mereka berciuman dengan ganas seolah saling memakan satu sama lain.

Pak Jamal memacu tubuh telanjang Clara yang sekarang sudah mengkilap oleh keringat, tapi tidak menunjukkan akan selesai, sampai akhirnya setelah hampir 20 menit diperkalukan sedemikian rupa, badan Clara mengejang keras, kakinya menghentak-hentak, tangannya memeluk ketat kedua bahu Pak Jamal, matanya terpejam erat dan mulutnya sedikit terbuka menandakan Clara semakin mendekati orgasme.

Aaaaaaaaaahhhhhhh... ... teriak Clara keras sambil mengeraskan pegangannya pada bahu Lim. Clara mengalami orgasme yang sangat tinggi, kedua pahanya dirapatkan dan badannya mengejang keras untuk beberapa menit. Sungguh dahsyat orgasme yang didapatnya, namun ironisnya hal itu bukan dia dapat dari kekasihnya melainkan dari seorang pria tua jelek.

Tapi Pak Jamal belum mau selesai, kali ini dia memaksa Clara berdiri dan menunggingkan pantatnya sementara kedua tangan Clara menekan kasur. Pak Jamal melebarkan kedua paha Clara membuat ruangan yang lebar di selangkangannya. Clara sekarang dalam keadaan berdiri, menungging 90 derajat dengan kaki terbuka lebar. kemudian Pak Jamal mulai memegang kedua bongkahan pantat Clara dan menguakkannya lebar-lebar, semantaranya jari-jari Pak Jamal menggesek-gesek dan mengocok liang vagina Clara.

Aaaahhhhhhhhhhhhh... Tiba-tiba terdengar rintihan lirihan Clara. Rupanya Pak Jamal mulai memasukkan penisnya yang besar ke dalam liang vagina Clara.

Aahhkk... teriak Clara ketika secara perlahan tapi pasti penis Pak Jamal masuk ke dalam vagina Clara.

UUhhh... masih seret dan sempit aja nih... kata Pak Jamal ketika seluruh penisnya sudah masuk ke dalam lubang vagina Clara.

Kemudian Pak Jamal mendorong badan Clara lebih ke bawah lagi, dan kedua tangan Clara menekan ranjang. Sekarang posisi Clara makin menungging dengan kedua tangannya berpegangan pada meja sofa, kepala tertunduk dan di lubang vaginanya terbenam seluruh penis Pak Jamal yang besar.

3 menit tidak ada pergerakan baik dari Pak Jamal maupun Clara, mereka seakan-akan sedang berpose dalam posisi seperti itu.

Aaagg... aaggghhh... jerit pelan Clara ketika Pak Jamal mulai menarik penisnya secara perlahan dari lubang vagina Clara sampai tinggal kepala penis Pak Jamal yang masih terbenam dalam lubang vagina Clara.

AAAAGGGHHHHHHH... .. jerit Clara dengan keras ketika secara tiba-tiba dan kasar memasukkan kembali seluruh penisnya ke dalam lubang vagiannya.

Hal tersebut dilakukan Pak Jamal berulang-ulang. Pak Jamal menarik secara perlahan penisnya dari vagina Clara dan kemudian kembali memasukan penisnya dengan cepat ke dalam vagina Clara.

Setiap kali Pak Jamal secara perlahan menarik penisnya dari vagina Clara, terdengar jeritan kecil seperti desahan dari mulut Clara dan setiap kali Pak Jamal dengan kasar memasukkan penisnya kembali ke dalam vagina Clara terdengar jeritan keras Clara. Begitu kasarnya Pak Jamal memasukkan penisnya ke dalam vagina Clara, mengakibatkan setiap kali penis besar itu masuk ke dalam vagina Clara, Clara menjerit panjang, kepalanya terdongak ke atas dan kedua kakinya menjadi menjinjit karena dorongan Pak Jamal dari belakang. Pak Jamal kemudian memegang pinggul Clara dari belakang dan mulai mempercepat pompaan penisnya pada vagina Clara.

Aahh... uuuhhh... aaaggghhh... uuuggghhhh..... terdengar jeritan Clara disertai deru napas Clara yang terengah-engah. Badan Clara terguncang-guncang keras maju mundur, kakinya terjinjit,tangannya dengan keras memegang pinggir meja, kedua payudaranya bergoyang cepat, kepala terdongak ke atas dan bibirnya terkatup rapat antara menahan sakit dan sensasi yang Clara rasakan dalam vaginanya.

Aaahhh..uuhhhhh... aaahhhh... desahan keras Clara mulai terdengar manja. Rasa sakit pada vaginanya telah hilang dan digantikan oleh kenikmatan yang luar biasa. Vagina Clara yang tidak berbulu itu terlihat mengkilap, cairan kewanitaannya membanjiri vaginanya dan terus meleleh ke kedua paha dalamnya. Badan Clara mulai mengikuti irama permainan laki-laki tua itu. Rupanya Pak Jamal sudah sangat berpengalaman dalam mengerjai tubuh wanita. Clara yang baru berumur 23 tahun terlihat sekali belum berpengalaman dan kepayahan melayani permainannya.

Puluhan menit dikerjai oleh Pak Jamal ditambah orgasme yang datang bertubi-tubi dan silih berganti membuat Clara mabuk kepayang. Matanya menjadi sayu, racauan-racauan mulai keluar dari mulut Clara dan gerakan-gerakan tubuh Clara menjadi makin tidak terkendali menunjukkan betapa Clara menikmati permainan ini.

Kemudian Pak Jamal kembali merebahkan Clara di atas ranjang. Pak Jamal kemudian langsung menindih tubuh Clara sambil memompa penisnya dengan cepat keluar masuk vagina Clara. Clara hanya bisa mengerang-erang merasakan kenikmatan pada vaginanya.

Aaaaahhhh....... oohhhh.... aahhkkhhhh... ooohhhhh..... teriak Clara sambil menggelinjang-gelinjang dan kedua tangganya meremas-remas seprei kasur. Gerakan liar Calara membuat pak Jamal makin bernafsu. Pak Jamal semakin cepat memompa vagina Clara dengan penisnya. Kaki Clara terangkat ke atas memberikan kesempatan kepada Pak Jamal untuk terus memompa vaginanya dengan lebih cepat lagi.

Aaahh...... oohhh... . Clara mulai meracau dengan mata tertutup dan tangannya semakin keras meremas-remas seprei. sungguh adegan persetubuhan yang sangat menggairahkan dimana seorang pria setengah baya dengan perut buncit sedang menyetubuhi seorang wanita muda yang sangat cantik.

Tiba-tiba badan Clara mengejang, kedua kakinya dirapatkan menjepit pinggang Pak Jamal, tangannya memeluk erat leher Pak Jamal dan badannya terangkat cukup tinggi. Saat itulah Clara kembali mengalami orgasme.

AAAAHHHHHHHHHHKK................ Clara menjerit kuat-kuat melepaskan gejolak birahi yang sedari tadi menggedor tubuhnya selepas-lepasnya. Tubuhnya menggelepar-gelepar bagaikan ikan yang meloncat ke daratan, dia memeluk tubuh Pak Jamal dengan erat seolah tidak akan dilepaskan. Dan Pada saat yang bersamaan Pak Jamalpun tidak tahan lagi. Dengan erangan bagaikan seekor banteng, Pak Jamal melepaskan orgasmenya. Semburan spermanya begitu banyak mengisi rahim Clara. Pak Jamal akhirnya ambruk menindih tubuh Clara.

Setelah itu, karena penat, Pak Jamal bergeser ke sebelah Clara dan tertidur. Ada gurat kepuasan di wajahnya setelah berhasil merasakan bagaimana nikmatnya bersenggama dengan gadis kota yang cantik jelita seperti Clara. Sementara itu, Clara yang telah pulih kembali pikiran dan akal sehatnya yang sebelumnya tertutup oleh hawa nafsu hanya bisa menangis. Clara berusaha bangun dari ranjang tapi Pak Jamal melarangnya, dia menyuruh Clara tidur bersamanya dalam keadaan telanjang bulat. Clara terpaksa menurut karena ia tidak dapat lagi melawan. Lalu ia berbaring di samping Pak Jamal yang masih bugil hingga malam menjelang.

Sesekali di atas ranjang saat mereka tidur berdampingan, tangan Pak Jamal meremas payudara Clara yang tidak tertutup apa-apa itu. Clara pun selalu melepaskan tangan Tuan tanah mata keranjang yang gatal itu. Tapi karena kelelahan, tak lama kemudian, mereka berdua pun tertidur.

Clara tidak tahu berapa lama dia tertidur, saat terbangun tubuhnya terasa seperti baru saja dilindas rombongan gajah mengamuk. Sekujur badannya terasa seperti remuk dan nyaris tidak bisa bangun. Clara melihat dirinya masih dalam keadaan bugil. Bekas-bekas perkosaan masih ada pada sekujur tubuhnya. Sisa-sisa sperma Pak Jamal masih menempel di selangkangannya. Clara berusaha mencari pakaiannya, tapi tidak ada di kamar. Pakaiannya pasti sudah diambil oleh Pak Jamal. Maka Clara menarik seprei dari ranjang untuk menutupi tubuhnya yang telanjang bulat. Dengan tertatih-tatih Clara berjalan keluar kamar. Badannya yang penat dan letih mambuat Clara berusaha mencari kamar mandi, yang dia temukan di bagian belakang. Clara segera membuka kain yang melilit tubuhnya dan menyiramkan air dari bak mandi yang terasa menyegarkan. Clara teringat segala kejadian yang baru saja dialaminya. Perlahan air matanya kembali menetes. Clara menangis tersedu menyadari keadaan dirinya.

Setelah puas menumpahkan kesedihannya di kamar mandi, Clara merasakan tubuhnya segar kembali. Tapi ketika dia membuka pintu kamar mandi, betapa terkejutnya dia saat melihat ada Pak Jamal berdiri di depan pintu dengan cengar-cengir. Clara merasa Pak Jamal baru saja mengintipnya. Tapi belum sempat Clara bersuara, tiba-tiba Pak Jamal sudah menyeretnya ke ruangan tengah. Clara tidak berani berontak, pertama karena takut, kedua dia tidak mau kain yang dipakainya untuk menutup tubuhnya yang telanjang melorot.

Neng Clara silakan kenalan dengan anak saya, Kirno kata Pak Jamal sambil menunjuk ke arah seorang pemuda yang duduk di kursi panjang. Pemuda itu sama jeleknya dengan Pak Jamal, bahkan lebih jelek lagi. Badannya pendek dan gemuk serta agak bungkuk, membuatnya mirip seperti seekor gorila. Tampangnya mirip orang sinting karena sering terenyum sendiri, rambutnya tumbuh panjang dan tidak terawat. Mukanya yang hitam dan tebal ditumbuhi banyak jerawat besar-besar, sementara kumisnya yang jarang-jarang tumbuh tidak beraturan. Matanya besar dan terlihat mengantuk.

Kirno menatap tubuh Clara dari atas sampai ke bawah sambil menjilati bibirnya sendiri seolah sedang menaksir hewan ternak. Clara merasa jijik melihat tingkah Narto yang seperti orang sinting itu.

Hallo Neng manis, hehehe wah beruntung banget lho saya bisa ketemu Neng. Soalnya Neng Clara cantik banget sih.. aku belum pernah bilang yah? ujar Kirno mengomentari Clara. Clara merasa sebal mendengar ocehan Kirno yang tidak jelas itu. Dia segera menoleh kepada Pak Jamal

Pak Jamal, apa maksudnya ini pak...? tanya Clara dengan suara bergetar antara muak bercampur takut.

Hehehehehe... jangan marah begitu dong Neng yang cantik. kata Pak Jamal kalem tapi nadanya membuat telinga Clara jadi panas.

Neng Clara kan tadi habis gituan sama saya, kata pak Jamal tetap dengan nada kalem. Sekarang giliran Neng begituan sama anak saya. Soalnya dia juga pengen ngerasain tempiknya cewek kota seperti Neng.

Bagaikan disengat listrik, Clara tersentak dari tempat duduknya.

Jangan Pak.. jangan.. Bapak tadi sudah janji saya Cuma ngelayani Bapak.. Clara terisak, wajahnya yang basah oleh air mata tampak memelaskan.

Hehehehehe... Bapak kan nggak bilang begitu Neng, Pak Jamal mengelak kalem. Perjanjiannya kan Neng jadi piaraan saya, jadi saya boleh menyuruh Neng ngentot sama siapa saja yang saya ijinkan.

Clara terpukul mendengar ucapan itu. Tubuhnya seolah tidak punya daya lagi. Pak Jamal benar-benar telah menjebaknya habis-habisan. Clara merasa kehidupannya benar-benar hancur.
Bagaimana Neng? Neng Clara mau kan? tanya Pak Jamal berlagak bodoh, padahal wajahnya menunjukkan seringai kemenangan.

I... iya.. Pak.. sa.. saya mau diapain aja.. Clara menjawab sambil terisak.

Hehehehehe... sekarang ayo Neng buka kainnya, hehehe"perintah Kirno sambil menyeringai menunjukan gigigiginya yang berwarna kuning kehitamhitaman itu.

Maka dengan amat terpaksa Clara membuka kain yang melilit tubuhnya, yang langsung menunjukan tubuhnya yang putih mulus, telanjang berdiri di depan Kirno dan Pak Jamal. Kirno langsung dapat melihat payudara dan kemaluan Clara yang telanjang.

"Astaganaga... Kirno membelalak menatap tubuh putih mulus yang telanjang bulat itu, seolah sedang mimpi. Bukan main... putihnya.. mulusnya.. suara Kirno gemetar menahan ledakan birahinya. Kirno lalu membimbing Clara masuk ke dalam kamar. Kamar dimana sebelumnya Clara diperkosa oleh bapaknya, sambil sesekali menciumi pipi dan leher Clara. Clara merasa muak, tapi sekaligus juga bernafsu setelah habis habisan diperkosa oleh bapaknya, kini birahi Clara kembali naik saat giliran sang anak yang mengerjainya.

Sesampainya di kamar dan menutup pintunya, Kirno menyuruh Clara berlutut di hadapannya.

Berlutut Neng. Ujarnya sambil menekan pundak Clara memaksa Clara berlutut, Clara hanya bisa menurut.

Sekarang Neng Clara ngemutin punya saya ya.. katanya pelan sambil membuka baju dan celananya. Sekarang hanya tersisa celana dalam saja yang dipakainya. Clara tersedak mendengar perintah Kirno yang datar itu.

Mau kan Neng cantik? tanya Kirno. Clara hanya mengangguk pelan.

Eh, ditanya kok diem saja? kata Kirno lagi. Clara menunduk antara malu bercampur geram dan takut.

Ehh... ya Mas... saya mau ngemut punya Mas Kirno, kata Clara tersendat. Lalu tangan Clara meraih selangkangan Kirno dari luar celananya. Dipijatnya bagian yang sudah menggelembung itu dengan lembut.

Heheheudah nggak sabar yah Neng? Buka aja Neng, saya nggak keberatan kok. Kata Kirno sambil menunjuk ke arah kemaluannya sendiri. Clara tertegun sesaat, lalu dengan gerakan pelan dia menurunkan celana dalm Kirno.

Clara tertegun melihat penis Kirno yang panjangnya sekitar 17 cm, hitam dan mengacung diantara pahanya yang besar dan berbulu. Clara pelan pelan mencengkeramkan tangannya menggenggam penis Kirno dan mulai menjilati kepala penisnya sesuai permintaan pria itu.

Diisep ya Neng. perintah Kirno yang langsung dituruti Clara dengan memasukkan penis itu ke mulutnya, di dalam mulut dia mainkan lidahnya sehingga memberi sensasi nikmat pada penis itu.

Kirno melenguh nikmat merasakan kuluman Clara, tangannya menjulur ke bawah meraih buah dadanya yang menggantung. Kini titik-titik sensitif tubuhnya diserang habis-habisan membuat libidonya kembali naik. Kenikmatan itu diekspresikan Clara dengan semakin bersemangat mengulum penis Kirno, desahan halus terdengar di sela-sela oral seksnya.

Oohhiyahhhterus Neng, enak banget emut terus. Kirno mengerang blingsatan karena sepongan Clara, dia meremasi rambut gadis itu sesekali juga payudaranya. Clara yang libidoya bangkit mulai bersemangat, dengan tangan dan mulutnya, penis Kirno dikocoknya kuat-kuat membuat pemuda itu mengejang-ngejang menahan kenikmatan. Tapi Kirno belum mau cepat-cepat keluar, dia menyuruh Clara berhenti. Kirno rupanya sudah ingin mencoba vagina Clara, disuruhnya Clara tidur telentang di atas ranjang, tempat tadi Clara diperkosa oleh bapaknya. Kirno mengangkat kedua kaki Clara sampai mengangkang. Setelah posisinya pas, Kirno merenggangkan kedua belah paha Clara dan menempelkan ujung penisnya pada bibir vagina Clara.

Ooohh! desah Clara dengan tubuh bergetar ketika penis Kirno mulai memasukinya. Sementara itu Krino meletakkan tangannya di payudara Clara lalu mulai meremas-remas kedua belah payudra putih mulus itu.. Perlahan Kirno mulai memaju-mundurkan pantatnya. Clara mengerang kecil setiap kali penis Kirno mendsak vaginanya.

Enak yah Non, kapan nih pertama kali ngentot ? tanya Kirno menghentikan genjotannya dan remasan tangannya dari payudara Clara.

Dulu... aaahhhh di SMU hhhmmmhhtujuh aah belas tahun. Jawab Clara dengan merintih-rintih nikmat.

Sekarang udah ada pacar Non? tanya Kirno lagi sambil memelintir putingnya.

Lagi nggakaahhhaahhpunyaahhh oohhh..enakh.. aahhkhh ! Clara mengerang menahan sensasi yang meleadakkan tubuhnya dari dalam.

Kalau begitu Neng mau nggak jadi pacar saya? Nanti kita bisa ngentot tiap hari. tanya Kirno lagi diiringi satu desakan kuat penisnya di vagina Clara, membuat Clara tersentak.

Ahhhkhh.. mauuu... ahhhhh.... ooooohhh.... Clara tanpa sadar mendesah penuh nikmat.

Mendengar hal itu Kirno makin liar menggenjot vagina Clara. Hampir sepuluh menit lamanya vagina Clara digenjot. Kirno yang menindihnya menaik-turunkan tubuhnya sambil menciumi lehernya. Rasa nikmat itu diungkapkan Clara lewat desahannya, sesekali dia menggigiti jarinya sendiri, perlahan kedua tungkainya mulai melingkari pinggang Kirno seolah meminta ditusuk lebih dalam lagi. Kirno meningkatkan frekuensi genjotannya sambil melenguh nikmat merasakan seretnya vagina yang menghimpit penisnya.

Setelah duapuluh menit, Kirno meminta Clara untuk menungging seperti seekor anjing. Pantatnya diangkat sehingga lebih tinggi dari kepalanya. Lalu dari arah belakang Kirno kembali mendesakkan penisnya ke dalam vagina Clara sambil meremas-remas pantatnya. Clara tidak berdaya menahan sensasi yang ditimbulkan dari setiap sodokan penis Kirno, membuatnya menggeliat dan merintih sensual. Hal itu membuat Kirno makin bersemangat menggenjotkan penisnya sampai tubuh bugil Clara tersentak-sentak maju-mundur. Dorongan seksual dari dalam diri Clara kembali menggelegak membuat tubuhnya mengejang kuat sekali. Dan pada saat mendekati klimaks Clara tiba-tiba bergerak dengan liar mengimbangi genjotan Kirno.

AHHHHH......... AHHHH......... Clara mengerang keras sambil menggeliat liar, tubuhnya menegang, tangannya mencengkeram kasur dengan kuat dan kemudian perlahan mengendur lagi lalu melemas kehabisan tenaga, rupanya Clara kembali mengalami orgasme yang kali ini bahkan lebih dahsyat dari orgasme sebelumnya. Tapi rupanya Kirno belum merasa puas, dia membalikkan tubuh bugil Clara yang terengah-engah sehingga kebali terlentang di ranjang. Bagian vagina Clara terlihat mengalirkan lendir. Kirno lelu mengangkat kedua paha Clara dan membukanya lebar-lebar ke samping, dengan memegangi kedua pergelangan kaki Clara Kirno kembali mengarahkan penisnya ke vagina Clara yang terkuak lebar, Clara menggeliat saat vaginanya kembali dimasuki oleh penis Kirno, tapi dorongan seksual sudah menguasai Clara, dia diam saja ketika Kirno mulai kembali menyetubuhinya, bahkan kembali mendesah-desah penuh kenikmatan saat Kirno menyodok-nyodokkan penisnya.

Clara sangat tidak berdaya menghadapi setiap genjotan penis Kirno, dia memilih untuk menyerahkan ketotalan kepasrahan dirinya untuk diapakan saja oleh Kirno, untuk di garap habishabisan dan kepasrahan itu membuat Clara kembali merasakan orgasme membuat tubuhnya kembali menegang, melihat Clara kembali orgasme Kirno semakin keras saja mengenjot vagina Clara, ia memompa Clara habis habisan

Argggghhhh emmhhh oohhh yeahhhh yeahhhhhh yahhhh.... enak banget nih.... oooiiiii ahhhh... ahhh ahhhhhh.... teriak Kirno. Tubuh Kirno menegang dan akhirnya semburan spermanya memenuhi rongga vagina Clara.

Clara terkapar lemas di ranjang, tubuhnya yang putih mulus basah kuyup oleh keringat membuat tubuh bugil itu berkilau. Nafasnya naik turun membuat payudaranya ikut naik turun menggairahkan.

Semula Clara merasa lega saat Kirno menyudahi perkosaan pada dirinya. Tapi ternyata penderitaannya belum selesai. Pak Jamal tiba-tiba menyerbu masuk ke dalam kamar. Rupanya sedari tadi Pak Jamal ikut mengintip dari pintu yang sengaja tidak dikunci.

Astaga, enak sekali tempik cewek kota. Kata Kirno pada bapaknya. Bapak memang pintar memilih.

Neng Clara ini sekarang sudah jadi piaraanku... jadi gundikku, dia tidak akan lagi bisa lepas dariku. Jawab Pak Jamal sambil tertawa. Kirno juga tertawa.

Mau lihat buktinya? Pak Jamal yang juga sudah bugil itu memanggil Clara dengan isyarat tangannya. Clara dengan gemetar bangkit dan mendekati Pak Jamal dengan campuran antara malu dan takut. Pak Jamal menjilati vaginanya. Vagina Clara yang sudah basah itu tidak kesulitan menampung penis Pak Jamal.

Ehhkk... Clara mengerang kecil merasakan vaginanya kembali penuh. Clara tahu apa yang harus dia lakukan. Perlahan Clara mulai menggerakkan pantatnya naik turun membuat penis Pak Jamal yang membenam di dalam vaginanya terkocok keluar-masuk. Pak Jamal merem melek merasakan nikmatnya jepitan vagina Clara. Lama lama Clara mulai mempercepat goyangan pantatnya sehingga sekarang yang terdengar hanyalah suara kecipak akibat gesekan dua alat kelamin yang bersatu diiringi desahan-desahan erotis Clara.

Hehehehehe... pintar.. Neng memang pintar, ujar Pak Jamal sambil tangannya sibuk menjamahi payudara Clara. Clara makin tidak terkendali, gerakannya makin liar. Lalu Pak Jamal menarik tubuh Clara sehingga dada Clara berhimpit dengan dadanya dan memeluk Clara dengan erat. Tiba-tiba Clara merasakan ada tangan yang menjamah pantatnya. Clara bergetar, dilihatnya Kirno mulai membuka belahan pantatnya. Clara gematar mengetahui apa yang akan dilakukan Kirno.

Jangan! Jangan di situ! Ampun... jangan disitu.. Clara menjerit saat Kirno mengarahkan penisnya di lubang anusnya.

Diam cerewet! Kirno membentak. Clara menangis tersedu saat dirasakannya sebuah kepala penis mendorong tepat di liang anusnya yang kecil dan rapat.

"Jangaann! Clara melolong ketika penis Kirno mulai menembus masuk anusnya senti demi senti. Dengan satu dorongan final, penis Kirno terbenam seluruhnya dalam anus Claraa.

"Aaarrhhkkhh! Clara menjerit merasakan sakit di pantatnya. Kirno diam selama bebarapa menit membiasakan Clara merasakan penisnya. Kemudian ditariknya penisnya keluar pan-pelan membuat Clara meringis, antara kesakitan dan nikmat.

Kemudian bapak dan anak itu mulai secara kompak memompa penisnya masing keluar masuk vagina dan lubang pantat Clara. Pompaan mereka semakin lama semakin cepat, membuat tubuh Clara tergoncang-goncang. Kepala Clara bergoyang tidak beraturan karena nikmat yang dirasakannya. Kedua payudara Clara dijilati oleh Pak Jamal dari bawah sedangkan kedua tangannya sibuk memainkan puting payudara Clara seperti orang mencari signal radio.

Rupanya tidak seperti sebelumnya, kali ini bapak dan anak itu ingin mempermainkan Clara lebih jauh. Ketika Clara hampir orgasme, mereka memelankan pompaan mereka pada mulut, vagina dan lubang pantat Clara, bahkan kadangkala menghentikannya atau bahkan menekan keras penis di lubang pantat dan vagina Clara dan menjambak rambut Clara dengan keras sehingga Clara tidak jadi orgasme.

Hal itu membuat Clara semakin liar dan semakin tidak bisa mengontrol dirinya. Erangan-erangan Clara semakin keras, badan dan kepala semakin bergoyang-goyang tidak beraturan Clara terlihat sekali berusaha melayani bapak dan anak itu itu dengan sebaik-baiknya, Clara berusaha sekuat tenaga membuat mereka terangsang dan menikmati permainan ini.

Namun ternyata kedau bapak anak itu sudah sangat pengalaman itu tidak membiarkan diri mereka cepat hanyut dan tidak membiarkan Clara untuk orgasme.

Ammmpunn..egggghhh... .ampun..... erang Clara keras, namun harapannya tinggal harapan, karena mereka masih ingin mempermainkan Clara dalam waktu yang lama.

Dua jam Clara digarap habis oleh kedua pria bejat itu. Dua jam pula Clara memohon-mohon untuk dibiarkan orgasme. Mata Clara sudah sayu dan merem melek menerima kenikmatan yang rasanya tidak ada akhirnya. Badannya bergoyang erotis mengikuti setiap genjotan penis pada vagina dan lubang pantatnya.

Terlihat sekali Clara sedang menikmati permainan tersebut, Clara menjadi tidak peduli dengan sekelilingnya. Clara sudah tidak mempedulikan lagi bahwa dirinya sedang diperkosa. Clara menggelinjang liar dan erotis, tubuhnya dibiarkan mengikuti apa mau bapak dan anak itu.

Tiba-tiba, tanpa melepaskan penisnya dari dalam lubang pantat Clara, Kirno menelentangkan dirinya di karpet sambil ikut menarik tubuh Clara sehingga penis Pak Jamal lepas dari vagina Clara. Sekarang tubuh Clara terlentang di atas tubuh Kirno dengan penis tetap tertancap di lubang pantatnya. Kedua kaki Clara terbuka lebar ditarik oleh kaki Kirno ke arah luar dan kedua tangan Clara diangkat ke atas ke samping kiri kanan kepalanya.

Kirno memegangi kedua tangan Clara di sekitar ketiak Clara, kedua kakinya yang mengait kedua kaki Clara ke arah luar, membuat Clara menjadi mengangkang sangat lebar. Dada Clara membusung karena tertkan perut Kirno. Melihat pemandangan yang sangat menggairahkan itu Pak Jamal segera berlutut dihadapan selangkangan Clara. Clara yang kedua tangan dan kakinya yang sudah tidak dapat bergerak karena pegangan dan kaitan tangan dan kaki Kirno hanya bisa melihat penis Pak Jamal menerobos ke dalam vaginanya.

Aaaggg... aahhggggh... aaahhggggh.... oooohhhhhhhh.. erang Clara kenikmatan ketika Pak Jamal dan Kirno mulai memompa penisnya masing-masing dalam vagina dan lubang pantat Clara dengan keras.

Apa Neng mau dihamili sama saya? Tanya Pak Jamal tiba-tiba.

Mau...... eeeggghhhhh... .aagghhhhh.... Clara mau......ugghhhh... jawab Clara.

Mendengar itu Kirno menarik lengan Clara makin ke atas, sehingga dada Clara semakin membusung. Dan dengan kompak Kirno dan Pak Jamal memompa vagina dan lubang pantat Clara dengan sangat cepat.

Pak Jamal memompa vagina Clara dari atas dengan sangat cepat dari atas, sambil menjilati dan menggigit puting payudara, seluruh dada Clara sampai ketiak Clara yang terbuka lebar tidak luput dari jilatan dan gigitannya, sedangkan Kirno memompa lubang pantat Clara dari bawah dengan sangat cepat sambil mulutnya menjilati dan menggigit leher Clara yang jenjang.

Aaaahhh... ahhhhhhhhh..... Clara hanya bisa mengerang-ngerang keras kepalanya terdongak ke belakang, mata Clara terpejam dan giginya menggigit bibirnya sendiri.

Setengah jam Pak Jamal dan Kirno memompa keras vagina dan lubang pantat Clara. Ruangan tersebut menjadi hingar bingar oleh suara erangan dan rintihan nikmat Clara serta dengus napas Kirno dan Pak Jamal. Mereka bertiga seakan-akan sedang dalam suatu perlombaan mengejar garis finish yang sudah dekat.

Tiba-tiba badan Clara mengejang keras, Mulut Clara terbuka lebar badannya menggeliat keras, kedua kakinya yang dikait kaki Pak Jamal bergetar hebat dan kedua tangannya meraih dan meremas-remas karpet dengan kuatnya.

AAAAAAAAAGGGGGGGGGGGGGGGGGGGH...... Clara menjerit kuat-kuat pada saat orgasme yang sudah ditunggu-tunggunya berjam-jam akhirnya datang juga.

Bersamaan dengan itu Pak Jamal juga menekan keras penisnya ke dalam vagina Clara dari atas dan Kirno menekan keras penisnya ke dalam lubang pantat Clara dari bawah.

AAGGHHHHHHHH... Lenguh Pak Jamal dan Kirno bersamaan, sambil memuncratkan spermanya masing-masing ke dalam vagina dan lubang pantat Clara

Mereka bertiga mengalami orgasme yang sangat panjang, sampai akhirnya tubuh Kirno rubuh ke atas tubuh Clara, sehingga Clara terjepit ditengah-tengah. Ketiganya terkulai lemas dengan nafas memburu seperti baru saja menyelesaikan lari marathon puluhan kilometer jauhnya.

Kedua pria bejat itu merasa sangat puas bisa melampiaskan nafsu seksualnya pada gadis kota yang secantik Clara. Bagi mereka, bisa menyetubuhi Clara ibarat mimpi yang jadi kenyataan. Mereka sering melampiaskan nafsu seksualnya pada beberapa wanita desa yang menjadi gundik mereka, tapi mereka merasakan perbedaan yang mencolok dibandingkan dengan semua wanita desa yang pernah mereka gauli selama ini. Sensasi kenikmatan yang didapatnya dari vagina Clara membuat membuat mereka ketagihan. Yang mereka inginkan saat ini adalah bagaimana agar menikmati tubuh yang mulus dan seksi itu sepuas-puasnya sesering yang mereka bisa. Berbagai rencana sudah ada di dalam otak mereka yang bejat. Apalagi saat ini mereka telah berhasil menjebak Clara dalam sebuah jerat mematikan yang akan membuat Clara menuruti apapun yang mereka inginkan.

Tamat

Malapetaka KKN - Pelanggar Adat

Hampir semua orang di desa itu setuju kalau para mahasiswa dan mahasiswi yang datang ke desa mereka dalam rangka Kuliah Kerja Nyata berasal dari kalangan berada, terbukti dengan dandanan dan gaya mereka yang sangat tidak lazim di tengah-tengah kehidupan penduduk desa yang rata-rata adalah petani. Dari sekian banyak mahasiswa dan mahasiswi itu, terdapat enam mahasiswi yang paling cantik di antara yang cantik. Mereka adalah Asty, Bella, Clara, Lia, Alya dan Fanny. Bisa dilihat secara kasat mata kalau mereka berenam berasal dari kalangan berada. Selain wajah mereka yang cantik, tubuh dan kulit merekapun sangat terawat ditambah dandanan mereka yang selalu bagus dan rapi. Merekapun rata-rata sudah punya pasangan yang juga berasal dari kalangan kaya.

Kehidupan desa yang sepi dan jauh dari peradaban rupanya tidak cocok bagi mereka, terbukti setelah sepuluh hari mereka di sana, mereka sudah banyak mengeluh, mulai dari makanan, air sampai toilet yang jorok. Apalagi desa itu tampaknya masih terikat tradisi bahwa berdua-duaan antara pria dan wanita dianggap sebagai pelanggaran adat. Mereka sudah terbiasa dengan pergaulan bebas tidak tahan menghadapi kehidupan yang serba terisolir dan terbatas di desa yang sering mereka sebut primitif itu. Beberapa dari mereka atau bisa juga semuanya secara sembunyi-sembunyi kadang berusaha menemui pacar-pacar mereka dengan berbagai macam cara.

Pagi itu Asty terlihat berdandan lengkap dengan make-up yang terlihat rapi membuat wajahnya yang cantik menjadi lebih memesona. Asty bisa dibilang sempurna untuk ukuran wanita. Tingginya yang 170 cm didukung dengan bodi ramping tapi padat membuat banyak pria mengaguminya, rambutnya panjang ikal hitam biasanya dikuncir ekor kuda kali ini dibiarkannya tergerai dan hanya diberi bando putih, terlihat kontras dengan rambutnya yang tebal berkilat. Kakinya yang padat dan langsing terbalut celana panjang jins ketat membentuk lekukan tubuh yang nyaris sempurna.

Rapi amat lo, Tegur temannya yang sedang duduk di ruangan tengah ketika melihat Asty. Ada janjian sama Alex ya..? celetuknya.

Elo mau tahu aja.. Asty nyengir memamerkan sederet gigi yang rapi dan putih. Udah gak tahan nih.. masa gak bisa ngapa-ngapain di sini, bosan, kan?

Temannya hanya mencibir dangan mimik lucu.

Entar bilang aja Gue ada janji sama Alex.. kata Asty ambil lalu. Temannya hanya sempat mendengar kata terakhirnya karena Asty sudah keburu pergi dengan gerakan cepat.

Asty bergegas menuju ke tempat dimana Alex menginap. Beberapa orang penduduk desa yang lewat menyapanya kalem, meskipun terlihat jelas beberapa pria memelototi wajah dan tubuhnya yang seksi. Asty hanya menjawabnya sekilas tanpa memedulikan tatapan mereka. Bersama Alex pacarnya, Asty pergi berduaan dengan sedapat mungkin menghindari bertemu penduduk desa. Mereka berjalan menuju ke hutan di pinggiran desa. Sebuah hutan kecil tapi cukup lebat dan sunyi.

Udah Lex.. jangan jauh-jauh, entar kita kesasar.. kata Asty setelah masuk agak ke dalam. Lagian ngapain sih elo ngajakin gue ke tempat ini?

Asty memandang ke sekeliling. Mereka berada di tepi sebuah sungai kecil yang berair jernih. Sekelilingnya ditumbuhi rumput dan ilalang tinggi menciptakan sebuah tanah lapang berwarna hijau, memisahkan deretan pohon dan sungai yang berkelok.

Di sini nih.. kata Alex sambil tersenyum aneh menatap Asty.

Di sini apaan..? Asty bergumam tanpa memandang Alex.

Tempat yang pas buat pacaran.. Alex tertawa kecil. Dia lalu berjalan mendekati Asty yang masih memunggunginya lalu perlahan memeluknya dari belakang.

Uhmm Asty mendesah saat Alex mendaratkan ciuman kecil ke tengkuknya. Udara yang masih dingin membuat kuduk Asty meremang.

Gimana Sayang..? Tempat ini ideal kan..? Alex kembali menciumi tengkuk Asty, lalu menyusuri leher dan pundaknya dengan sentuhan bibirnya.

Ohhh.. Asty mendesah. Elo kalau urusan kayak gini paham banget.. Asty menggeliat kecil sambil memegangi pinggang Alex. Alex dengan sigap membalikkan tubuh Asty sehingga mereka berdekapan satu sama lain. Tanpa menunggu ijin dari Asty, Alex langsung melumat bibir Asty yang merah segar dengan gerakan ganas. Asty membalasnya dengan ciuman mesra. Selama hampir satu menit bibir mereka saling beradu seolah dilekatkan oleh lem yang begitu lengket.

Oh.. mmh.. gak sabaran amat sih Sayang.. Ujar Asty sambil mendesah di tengah pergulatan bibir yang seru itu. Dia mencengkeram rambut Alex dan menekankan wajahnya ke wajahnya sendiri.

Sudah sepuluh hari nih.. Gue udah ngebet tahu.. Alex membalas perlakuan Asty dengan cara yang sama. Pergulatan bibir it uterus berlanjut sampai keduanya menjatuhkan diri di rerumputan dan bergulingan sambil tubuh dan bibir masih melekat satu sama lain. Saking serunya bergumul, mereka tidak menyadari kalau aksi mereka sedang diintip oleh tiga pasang mata yang melotot sambil panas dingin menahan gejolak menggebu.

Pergulatan Alex dan Asty makin seru. Mereka bahkan mulai melucuti pakaiannya masing-masing hingga nyaris telanjang. Ketiga pasang mata yang mengintip itu langsung melotot ketika melihat Asty yang sekarang hanya tinggal memakai Bra dan celana dalam saja. Tubuhnya terlihat begitu mulus dan putih. Payudaranya yang tidak begitu besar terlihat padat di balik Bra tipisnya sehingga terlihat jelas puting susunya. Pinggangnya yang kecil berakhir pada pinggul yang bulat terlihat begitu menggairahkan sementara selangkangannya yang masih tertutup celana dalam berenda warna putih membayang jelas pada belahan vaginanya.

Alex yang sudah dikuasai nafsu tanpa menunggu langsung mendekap dan menindih tubuh putih mulus Asty yang setengah telanjang sambil terus melumat bibir Asty dengan gerakan lembut.

Wah.. wah.. Wah.. lihat siapa ini..? terdengar suara bernada mengejek dari atas mereka.

Bak disambar geledek keduanya langsung melompat dan saling menjauh dengan sekujur tubuh gemetar sebagai campuran reaksi antara kaget, marah, malu dan takut sekaligus. Betapa terkejutnya mereka, tahu-tahu tiga orang lelaki bertampang kasar sudah berdiri di dekat mereka. Asty dan Alex mengenal ketiganya. Ketiganya adalah mantri hutan setempat, yang satu bernama Pak Arman, pria kekar dan bercambang lebat yang merupakan Mantri kepala, yang satu lagi bertampang mirip pemadat, kurus kering dengan wajah pucat menyeringai menyebalkan, sering disapa dengans sebutan Pak Man, dan yang terakhir bertubuh hitam gemuk agak tua dengan rambut beruban di banyak tempat, dia Pak Johan. Secara refleks Asty mendekap bagian dadanya yang hanya berbalut Bra tipis. Sementara bagian bawahnya yang hanya tertutup celana dalam bebas dipelototi oleh ketiga mantri hutan itu.

hehehehe.. orang kota suka seenaknya saja.. kata Pak Arman sambil melirik ke bagian bawah tubuh Asty yang nyaris telanjang. Asty beringsut dan mencoba menutupi tubuhnya dengan tangan dengan usaha yang nyaris sia-sia karena tangannya terlalu kecil untuk menutupi tubuhnya.

Ma.. maaf Pak.. kami khilaf.. Alex berujar terbata-bata karena takut dan malu.

Iya Pak.. maafkan kami.. Asty memohon dengan suara memelas. Wajahnya yang semula putih sekarang berubah kemerahan karena malu dan takut.

Heheheh.. soal minta maaf itu mudah, tapi karena kalian sudah melanggar aturan adat maka kalian harus dihukum, Pak Arman berujar lantang dan datar mencoba menyembunyikan kondisi dirinya yang menahan gejolak melihat tubuh Asty yang putih mulus nyaris telanjang itu.

Jangan Pak.. jangan hukum kami.. Asty kali ini nyaris menangis saking putus asanya.

Iya Pak.. jangan hukum kami, kami akan bayar berapapun.. Alex menambahi dan berharap kata-kata terakhirnya merupakan senjata ampuh untuk menghindari hukuman. Tapi harapannya langsung menguap saat Pak Arman menanggapi dingin.

Dasar orang kaya, kalian pikir semua bisa diselesaikan pakai uang begitu..? Pak Arman membentak, membuat tubuh Asty seolah menciut ke ukuran botol.

Sekarang ayo ikut kami! kembali Pak Arman membentak.

Dengan ketakutan kedua orang itu menurut. Asty mencoba memungut bajunya yang bertebaran, Pak Arman yang melihatnya langsung melotot.

Siapa yang suruh kamu pakai baju? Kalian tidak boleh pakai baju! bentaknya. Asty kaget bukan kepalang. Matanya mulai berkaca-kaca karena ketakutan. Dilemparkannya kembali bajunya ke atas hingga bagian-bagian tubuh Anie yang terbuka. Pantat Asty yang mulus dan sekal menjadi bagian yang paling favorit bagi tangan para mantri hutan itu. Diperlakukan demikian Asty hanya bisa menahan tangis dan rasa ngerinya.

Mereka kemudian sampai di sebuah pondok kayu kecil, tapi kokoh karena terbuat dari kayu-kayu gelondongan. Anehnya mereka tidak mambawa Asty dan Alex masuk ke dalam pondok kayu itu. Mereka justru mengikat Alex pada sebuah pohon. Alex berusaha meronta tapi menghadapi tiga pria yang jauh lebih kuat darinya perlawanannya hanyalah usaha yang sia-sia.

Nah.. Nona yang cantik.. sekarang waktunya kalian harus menerima hukuman dari kami.. ujar Pak Arman sambil matanya menyapu ke sekujur tubuh putih mulus Asty yang berdiri hanya mengenakan Bra dan celana dalam.

Asty diam saja seolah menunngu vonis yang akan dijatuhkan.

Hmm.. hukumannya apa ya.. Pak Arman bergumam tidak jelas seolah bertanya pada dirinya sendiri.

Ah iya... Nona Asty, hukuman buat Nona yang pertama adalah menari buat kami.. tapi dengan catatan, sambil menari, Nona harus buka kutang sama celana dalam Nona... kata Pak Arman datar, nyaris tanpa emosi. Asty tersentak, seketika tubuhnya gemetar..

Asty terkesiap, dia tidak mengira akan dipaksa melakukan tarian telanjang. Tubuhnya gemetar karena shock, dia hanya menggelengkan kepalanya sambil menahan tangis yang setiap saat siap meledak.

Jangan! Bukan Asty yang berteriak tapi Alex yang masih terikat di pohon. Asty cepat lari! Cepat lari!

Diam tolol! Pak Johan yang berdiri di dekat Alex langsung meninju perut Alex. Pak Johan lalu menyumbat mulut Alex dengan secarik kain kotor.

Heheheh.. Kamu juga boleh melihat kok pacar kamu menari bugil, kamu pasti senang deh.. Pak Johan menyeringai licik.

Hehehehe.. Pak Arman menyeringai. Kalau mau lari juga tidak apa-apa, paling-paling Nona hanya akan bertemu macan di sekitar sini. Lagipula tidak ada yang tahu tempat ini selain kami.

Asty gemetar ketakutan, bendungan air matanya yang sedari tadi bertahan akhirnya jebol, sebutir kristal bening mulai mengaliri pipinya yang mulus. Asty tahu dia tidak punya pilihan lain, dia memang tidak tahu jalan pulang, ditambah kemungkinan benar ucapan Pak Arman tentang harimau yang masih berkeliaran. Asty menggelengkan kepalanya kuat-kuat mencoba pasrah.

Bagaimana Non..? Pak Arman bertanya datar. Asty diam sesaat sebelum akhirnya mengangguk. Tawa ketiga mantri hutan itu langsung meledak penuh kemenangan.

Horee.. Asiik.. hari ini kita bakal dapat tontonan bagus, jarang lho ada cewek kota secantik Non mau menari bugil buat kami, kata Pak Man - yang dari tadi diam saja - dengan nada dibuat-buat.

Asty menunduk sambil menggigit bibirnya menahan malu dan takutnya yang makin memuncak.

Tunggu dulu, pakai musik dong.. kata Pak Arman, dia lalu masuk ke pondokan dan keluar lagi membawa sebuah tape recorder kecil bertenaga batere. Ketika disetel, alunan musik dangdut mulai bergema di sekitar tempat itu.

Nah.. ayo dong Non.. mulai goyangnya.. kata Pak Arman mengimbangi suara musik yang lumayan keras.

Asty mencoba tersenyum. Dia lantas mulai menggoyangkan tubuhnya yang setengah bugil itu dengan gerakan gerakan erotis. Tangannya diangkat ke atas lalu pinggulnya digoyang-goyangkan membuat seluruh tubuhnya berguncang. Seketika mereka bertiga bersuit-suit melihat goyangan pinggul dan pantat Asty.

Buka kutangnya! Buka! Kami mau lihat pentilnya, teriak mereka sambil terus memelototi Tubuh Asty yang bergoyang erotis. Asty lalu perlahan mulai melepas Bra yang menutup payudaranya lalu melemparkannya ke tanah. Payudara Asty sekarang tergantung telanjang begitu putih mulus dan kencang. Payudara itu berguncang seirama gerakan Asty. Melihat payudara yang begitu mulus itu telanjang, Ketiga mantri hutan itu makin liar dan berteriak meminta Asty membuka celana.

Asty dengan sesenggukan mulai memelorotkan celana dalamnyanya dan melemparkannya ke tanah, Sekarang Asty sudah sempurna telanjang bulat di hadapan ketiga mantri hutan yang memelototinya dengan penuh nafsu, Asty meneruskan tariannya dengan berbagai gaya yang diingatnya. Ketiga mantri hutan itu paling suka saat Asty melakukan goyang ngebor ala Inul dan goyang patah-patah. Pantatnya yang montok dan mulus bergoyang-goyang secara erotis. Sesekali Asty juga berpura-pura melakukan onani dengan meremas payudaranya sendiri sambil merintih-rintih dan mendesah-desah seperti orang yang terangsang nafsu seksualnya.

Selama hampir satu jam Asty menghibur ketiga mantri hutan itu dengan tarian bugilnya, tubuhnya sampai basah karena keringat membuat tubuh yang putih mulus itu terlihat berkilat-kilat. Acara itu baru selesai setelah Pak Arman menyuruhnya berhenti.

Hehehehe... Ternyata Nona pintar juga narinya.. kami jadi terangsang lho.. kata Pak Arman sambil tersenyum keji.

Sudah cukup Pak, saya sudah menuruti permintaan Bapak, sekarang lepasin kami.. pinta Asty sengan memelas sambil setengah mati berusaha menutupi payudara dan vaginanya yang telanjang.

Cukup..? Pak Arman tertawa. Hukuman kalian belum lagi dimulai.

Asty merasa mual mendengar ucapan itu, kalau yang tadi belum apa-apa, Asty ngeri membayangkan apa yang akan mereka minta berikutnya.

Hukuman selanjutnya, sekarang Non berdiri sambil ngangkang, lalu angkat tangan Non ke belakang kepala! Pak Arman memerintah dengan jelas.

Asty tersedu sesaat, lalu dia mulai membuka kakinya lebar-lebar membuat bagian selangkangannya terkuak, tangannya diangkat dan jari-jarinya ditumpukan di belakang kepalanya membuat payudaranya yang putih dan kenyal sedikit terangkat. pose tersebut membuat bagian selangkangannya terbuka lebar sehingga memperlihatkan vaginanya dengan jelas. Vagina Asty terlihat terawat dengan baik, ditumbuhi rambut-rambut halus dan rapi, Asty selalu merawat bagian genitalnya dengan sangat cermat. Sementara dengan tangan di belakang kepala membuat payudaranya makin membusung dan mencuat menggemaskan.

Nah, sekarang boleh nggak kami meraba tubuhnya Neng? tanya Pak Arman..

Asty tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti permintaan itu.

I.. iya Pak, boleh.. Asty meneguk ludah.

Sekarang kita mulai ya.. kata Pak Arman, Asty hanya mengangguk, dia merasakan sentuhan tangan Pak Arman bergerilya di wajahnya.

Uhh.. wajahmu mulus sekali Non.. Pak Arman lalu mencium pipi Asty, antara geli dan jijik Asty memajamkan mata. Lalu Pak Arman mulai menelusuri bibir Asty yang merah dan mulai melumatnya dengan gerakan lembut. Pak Arman terus berusaha mendesakkan bibirnya mengulum bibir Asty, lidahnya mencoba menerobos masuk ke mulut Asty, sementara tangannya juga bergerilya meraba-raba dan meremas payudara Asty. Asty menggelinjang mendapat perlakuan itu. Sambil bibirnya terus mengulum bibir Asty, tangan Pak Arman juga memelintir-melintir puting payudara Asty dengan gerakan kasar. Asty meringis kesakitan tapi perlahan perlakuan Pak Arman justru menimbulkan sensasi aneh dalam dirinya, tubuh Asty menegang saat sensasi itu melandanya, tanpa sadar Asty mulai mendesah.

Ayo, kalian juga boleh ikut..? Pak Arman memanggil kawan-kawannya. Asty makin menderita mendengar ucapan itu, kali ini tiga orang yang mengerubutinya, mereka meraba-raba ke sekujur tubuhnya. Pak Man yang berangasan bahkan meremas-remas payudara kiri Asty dengan kasar, sementara sebelah tangannya meraba dan meremas pantat Asty yang sekal.

Uohh.., Pentilnya dahsyat, pantatnya juga nih.. kayaknya enak nih kalo ditidurin, kata Pak Man. Sementara Pak Johan sedang asyik berkutat dengan payudara Asty sebelah kanan. Dia menjilati dan menyentil puting payudara Asty dengan lidahnya.

Ohh.. baru tahu ? Pak Arman tertawa di tengah usahanya menjilati payudara Asty. Asty hanya bisa merintih pasrah. Apalagi saat Pak Arman mulai menggerayangi vaginanya.

Ohh.. tempiknya bagus banget nih Pak Man.. Pak Arman menggesek-gesekkan jarinya di bibir vagina Asty, sementara Pak Man dan Pak Johan kali ini sibuk menciumi dan menjilati payudara Asty sementara tangannya membelai-belai perut Asty yang licin.

Ohh.. Asty menjerit kecil saat saat Pak Arman mencoba memasukkan jari-jarinya ke vagina Asty.

Jangan Tuan.. Asty merintih, tapi rintihan Asty ibarat perangsang bagi Pak Arman dan kawan-kawannya, dia makin liar menggesekkan jarinya ke selangkangan Asty bahkan dia juga meremas-remas gundukan vagina Asty. Asty merintih. Tubuhnya mengejang mendapat perlakuan itu.

Hei Pak Arman.. kayaknya Nona ini sudah mulai terangsang nih..tuh lihat dia mulai merintih, keenakan kali ye..? ujar Pak Johan diiringi tawa, Asty makin sakit hati dilecehkan seperti itu, tapi memang dia tidak bisa mungkir kalau dirinya mulai terangsang oleh perlakuan mereka.

Janganhh..ohh... Asty mulai meracau tidak karuan saat Pak Arman mulai menjilati vaginanya. Asty menjerit saat lidah Pak Arman bermain di klitorisnya. Lidah Pak Arman mencoba mendesak ke bagian dalam vagina Asty sambil sesekali jari-jarinya juga ikut mengocok vagina itu.

Ahkkhh.. ohh.. janganhh.. Asty menggeliat. Semantara Pak Man dan Pak Johan kali ini berdiri di belakang Asty sambil mendekap tubuhnya dan meremas-remas kedua payudara Asty dengan gerakan liar. Sesekali puting payudara Asty dipilin-pilin dengan ujung jarinya seperti orang sedang mencari gelombang radio. Asty mengejang, sebuah sensasi aneh secara dahsyat mengusir akal sehatnya. Dia mendesah-desah dengan gerakan liar, hal ini membuat kedua penjahat itu terlihat makin bernafsu.
Alex tidak bisa berbuat apa-apa melihat kekasihnya diperlakukan dengan biadab seperti itu, bahkan diam-diam dia juga terangsang melihat adegan gadis secantik Asty dikeroyok tiga orang pria kasar. Dalam batinnya diapun sebenarnya ingin ambil bagian dalam adegan pengeroyokan itu.

Ayo terus..sebentar lagi dia nyampe.. Pak Man berteriak-teriak kegirangan seperti anak kecil sambil terus menerus meremas payudara Asty sementara Pak Arman masih menelusupkan wajahnya ke selangkangan Asty. Lidahnya terus menyapu bibir vagina Asty dan sesekali menyentil klitorisnya. Asty menjerit kecil setiap kali lidah Pak Arman menyentuh klitorisnya, semantara tangannya juga bermain meremasi pantat Asty. Tubuh Asty sudah basah oleh keringat, sekuat tenaga dia menahan desakan sensasi liar di dalam tubuhnya yang makin lama makin kuat sampai membuat wajahnya merah padam. Tapi Asty akhirnya menyerah, tubuhnya mengejang dahsyat dan tanpa sadar dia mendorongkan vaginanya sendiri ke wajah Pak Arman dan menggerakkannya maju mundur dan bergerak liar menyentak-nyentak. Asty tidak dapat menahan diri lagi. Tubuhnya menggeliat dan menegang.

OOHHHKKHHHH.... AHHHH... Asty mengerang kuat-kuat seperti mengejan. Dan seketika itu pula Crt... crt... crt... cairan vaginanya muncrat keluar. Tanpa sadar Asty mengalami orgasme untuk pertama kali, dan kemudian tubuhnya melemas lalu terpuruk, Pak Man dan Pak Johan menahan tubuh Asty supaya tidak jatuh. Pak Arman tertawa senang melihat bagaimana Asty mengalami orgasme dengan begitu dahsyat.

Hehehehe... Pak Arman tertawa seperti orang sinting. Enak ya Non..? galak juga kalau lagi orgasme.. sindirnya. Asty hanya diam saja, tubuhnya masih lemas setelah mengalami orgasme yang begitu hebat, sekujur syaraf seksualnya seolah digetarkan dengan begitu kuat seperti dihimpit oleh truk raksasa membuat dorongan seksualnya entah bagaimana menggelegak hebat membuatnya serasa ingin disetubuhi.

Nah.. sekarang hukuman ketiganya.. Pak Arman memberi isyarat pada Pak Johan. Pak Johan segera bergegas masuk ke dalam pondok dan keluar dengan mengusung sebuah kasur busa usang yang berbau lembab lalu menghamparkannya di tanah begitu saja.

Nah.. Nona sekarang tiduran di situ ya.. Pak Arman menunjuk ke arah kasur bau itu. Asty hanya mengangguk, didorong oleh gejolak seksualnya yang menggelora dia merebahkan dirinya terlentang di atas kasur, kemudian membuka kaki lebar-lebar, sehingga posisi Asty telentang di atas karpet dengan kaki mengangkang lebar. Ketiga mantri hutan itu terkagum-kagum melihat Asty yang sangat cantik siap untuk disetubuhi. Sementara Alex yang terikat hanya bisa pasrah melihat kekasihnya sebentar lagi akan diperkosa.

Pak Arman kemudian membuka seluruh bajunya dan langsung menindih tubuh Asty sambil mengarahkan penisnya yang besar itu ke vagina Asty.

Sudah siap kan Neng..? Pak Arman berkata lirih. Dia lalu mendorongkan penisnya ke dalam vagina Asty.

Aagghh..., Asty merintih ketika penis besar Pak Arman mulai memasuki vaginanya. Pak Arman dengan kasar langsung memasukkan penisnya sampai mentok ke dalam vagina Asty yang sudah basah itu. Karena besarnya diameter penis Pak Arman, vagina Asty terlihat tertarik dan penuh dan menjadi berbentuk bulat melingkar ketat di penis Pak Arman. Meskipun Asty sudah tidak perawan lagi, tapi baru kali ini vaginanya dimasuki penis sebesar penis Pak Arman. Asty meringis menahan sakit sambil mengigit bibirnya.

Pak Arman mulai memompa penisnya dengan cepat keluar masuk vagina Asty. Asty yang belum pernah vaginanya dipompa oleh penis sebesar penis Pak Arman hanya bisa mengerang-erang dengan mata tertutup dan mulut sedikit terbuka.

AAAHHH... .UUUUHHHH... ... OOOHHHH teriak Asty sambil menggelinjang-gelinjang dan kedua tangganya meremas-remas kasur yang cukup tebal itu.

Pak Arman semakin cepat memompa vagina Asty dengan penisnya. Kaki Asty terangkat ke atas memberikan kesempatan kepada Pak Arman untuk terus memompa vaginanya dengan lebih cepat lagi.

Aaahh... enak... terus... ooh... . Asty mulai meracau dengan mata tertutup dan tanggannya semakin keras meremas-remas kasur.

Setelah 20 menit disetubuhi Pak Arman, tiba-tiba badan Asty mengejang, kedua kakinya dirapatkan menjepit pinggang Pak Arman, tangannya memeluk erat leher Pak Arman.

AAAAGGHHH... ... . erang Asty mencapai orgasme yang sangat tinggi.

Kemudian badan Asty melemah, pelukan tangannya lepas dari leher Pak Arman, kakinya yang tadinya memeluk pinggang Pak Arman jatuh ke kasur, vagina Asty yang tersumpal rapat oleh penis Pak Arman terlihat mengeluarkan cairan sampai membasahi karpet. Setelah beberapa lama persetubuhan itu berlangsung. akhirnya si mantri hutan kasar itu pun menyemprotkan spermanya dengan sodokan yang keras ke dalam kemaluan Asty. Spermanya keluar sangat banyak hingga tak tertampung oleh vagina Asty. Rembesannya keluar membasahi kasur itu. Di saat yang bersamaan, rupanya Asty pun kembali mengalami orgasme. Kali ini tubuhnya menggelinjang hebat tak terkendali. Sementara Pak Arman yang mengetahuinya, segera mendekap tubuh wanita itu seerat-eratnya. Pinggulnya terus mendorong-dorong kemaluannya seakan ingin mendekam dan bersarang di kemaluan Asty. Lalu diciuminya seluruh wajah Asty. dikulumnya dalam-dalam bibir wanita itu. Asty yang sudah kecapaian tak kuasa menolaknya. Dia mambiarkan bibirnya dilumat oleah Pak Arman dengan kasar.

Setalah menuntaskan segala kepuasannya, Pak Arman berdiri meninggalkan tubuh Asty yang lemas telanjang di atas kasur. Tubuh putih itu sekarang berkilau basah oleh keringat, pada vaginanya terlihat mengalir cairan sperma kental berwarna putih susu.

Ohhhh.. Pak Arman mengejang penuh kepuasan. Baru kali ini dia merasakan nikmatnya menyetubuhi seorang gadis kota yang sangat cantik. Berbeda sekali dengan pelacur-pelacur yang pernah dipakainya selama ini.

Asty hanya bisa menangis meratapi nasibnya diperkosa oleh Pak Arman, tapi dalam hatinya sebetulnya dia menikmati saat dirinya disetubuhi oleh Pak Arman. Rasa yang sangat berbeda dari yang pernah didapatnya dari Alex, bahkan Asty merasa Alex tidak ada apa-apanya dibandingkan Pak Arman. Karena itu ketika Pak Man mendekatinya dia hanya diam saja, menunggu persetubuhannya yang kedua.

Nah.. sekarang giliran Gue.. kata Pak Man tenang sambil melepas pakaiannya satu-persatu, dia menyeringai kegirangan mirip anak kecil yang diberi permen. kita ganti gaya ya Neng kata Pak Man kalem. Mungkin karena saking terangsangnya, Asty menurut saja apa yang dimintanya, Pak Man membalikkan tubuh Anie dengan pantat agak ditunggingkan, tangan dan lutut Asty bertumpu di kasur dengan gaya nungging. Pak Man membelai pantat Asty yang mulus telanjang itu sambil sesekali menamparnya ringan dan mencubitinya.

Buseet.. pantatnya, guede, putih, mulus lagi... kata Pak Man kegirangan. Lalu penis Pak Man mulai memasuki vagina Asty dari belakang.

Oohh.. gile.. Pak Man mengejang ketika penisnya amblas sepenuhnya di dalam vagina Asty. Tempiknya Neng masih seret aja.. Pak Man berujar. Asty hanya diam saja sambil memejamkan mata kaerna kesakitan sekaligus merasakan nikmat pada dinding vaginanya sebelah dalam.Dalam posisi demikian, Pak Man memaju-mundurkan pinggulnya sambil berpegangan pada pantat Asty. Asty serasa melayang, sekonyong-konyong dia tidak merasa diperkosa karena turut menikmatinya. Pak Man lalu menjambak rambut Asty dan ditariknya hingga wajahnya terangkat memperlihatkan ekspresi kesakitan tapi penuh kenikmatan setiap kali Pak Man menggenjotkan penisnya.

Ahhh... ahhhh.... oohhhhh... oohhhh... Asty mengerang setiap kali Pak Man menyodokkan penisnya, di lain pihak, Pak Arman dan Pak Johan ikut memberi semangat setiap kali Pak Man menyodok vagina Asty.

Ayoo.. terusss.. teruss Nona ... yeahh... oohhh... baguss.. Pak Johan memberi semangat pada Asty. Asty yang sudah dikuasai nafsu birahi mengerang-erang kuat setiap kali sentakan penis Pak Man menyodok bagian dalam vaginanya.

Menit demi menit berlalu, Pak Man masih bersemangat menggenjot Asty. Sementara Asty sendiri sudah mulai kehilangan kendali diri, dia kini sudah tidak terlihat sebagai seseorang yang sedang diperkosa lagi, melainkan nampak hanyut menikmati ulah Pak Man. Kemudian Pak Man mengganti gaya lagi, kali ini ditelentangkan dan ciuman di mulutnya. Mereka berpagutan sampai Asty mendesis panjang dengan tubuh mengejang, tangannya mencengkeram erat-erat lengan Pak Man. Tapi Pak Man belum terpuaskan, maka setelah jeda beberapa menit dia kembali menggerakkan penisnya maju mundur di dalam vagina Asty.

Uugghhoohh ! desah Asty dengan mencengkeram kasur dengan kuat saat penis itu kembali melesak ke dalam vaginanya, cairan yang sudah membanjir dari vagina Asty menimbulkan bunyi berdecak setiap kali penis itu menghujam. Suara desahan Asty membuat Pak Man semakin bernafsu sehingga meraih payudara Asty dan meremasnya dengan gemas seolah ingin melumatkan tubuh mulus itu.

Limabelas menit lamanya Pak Man menyetubuhinya sampai akhirnya Pak Man menggeram dan merasakan sesuatu akan meledak dalam dirinya.

Crttcrtcrt...., sperma Pak Man menyembur membasahi rahim Asty dengan sangat deras. Pak Man merasakan sekujur syaraf seksualnya meledak saat itu, bagai seekor binatang ganas yang keluar mengoyak tubuhnya dari dalam. Tubuh Pak Man menegang selama beberapa detik merasakan kenikmatan yang diperolehnya sebelum akhirnya melemas kembali dan tergolek mendekap tubuh mulus Asty. Lalu setelah puas dia segera bangkit. Dibiarkannya Asty terkapar di ranjang itu, wajahnya tampak sedih dan basah oleh keringat, cairan sperma yang sangat banyak mengalir keluar dari vaginanya.

Pak Johan yang mendapat giliran terakhir maju sambil bersungut-sungut, dia yang sedari tadi sudah telanjang hanya bisa mengocok penisnya sendiri sambil memelototi adegan persetubuhan kedua temannya dengan gadis yang sangat cantik dan seksi itu.

Jangan tiduran saja di situ Nona cantik.. Pak Johan lalu menarik tangan Asty dengan kasar membuat Asty tersentak ke depan. Diangkatnya wajah Asty yang tertunduk, ditatapnya sejenak dan disekanya air mata yang mengalir sebelum dengan tiba-tiba melumat bibir mungil itu dengan ganas.

Mata gadis itu membelalak menerima serangan kilat itu, dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendorong dada Pak Johan, namun sia-sia karena Pak Johan memeluknya begitu kuat dengan tangan satunya memegangi kepalanya. Ciuman Pak Johan makin merambat turun ke leher jenjangnya lalu dia membungkukkan badan agar bisa menciumi payudaranya. Dari leher mulut Pak Johan turun lagi ke dadanya, dia membungkuk agar bisa menyusu dari payudara berukuran 32B yang montok itu. Dijilatinya dengan liar hingga permukaan payudara itu basah oleh ludahnya, terkadang dia juga menggigiti putingnya memberikan sensasi tersendiri bagi Asty. Tangan satunya turun meraba-raba kemaluannya dan memainkan jarinya disitu menyebabkan daerah itu makin berlendir.

PakPakoohh.... aaah ! desahnya antara menolak dan menerima. Pak Johan diam saja, lalu kembali dilumatnya bibir Asty, lalu pelan-pelan Pak Johan merebahkan tubuh Asty kembali ke kasur dan menekan penisnya ke liang vagina Asty.

Sshhhsakit, aawhhh!! rintih Asty ketika penis Pak Johan yang besar itu menerobos vaginanya. Sementara Pak Johan terus berusaha memasukkan penisnya sambil melenguh-lenguh.

Ough.....aduhhhh... Pakkkkk !!!! pelannnn.....!!!!!! ahhh......... auggghhhh.... jerit Asty sambil mendorong tubuh Pak Johan menjauh. Namun Pak Johan tetap tidak peduli. Iapun terus mendorong penisnya masuk perlahan. Gesekan yang ditimbulkan batang penis dan dinding rahim Asty membuat Asty merasakan kesakitan di selangkangannya. Apalagi ia harus menahan bobot tubuh Pak Johan yang terbilang agak berat itu. Mengetahui kondisi dan tidak ingin terlalu membuat Asty tersiksa Pak Johanpun mendorongnya dengan kekuatan penuh. Hingga akhirnya amblas semuanya. Kedua tangannya memegang pinggul Asty dan agar tidak terlepas dari liang itu.

Pak Johan pun menarik penisnya yang masih tertancap di vagina yang sempit itu. Gerakan maju mundurnya membuat Asty mengigit bibir bawahnya seolah rasa perih mulai hilang diganti rasa nikmat karena gesekan kulit daerah organ vital mereka berdua. Goyangan maju mundur Pak Johan terus menerus seolah ingin menancapkan penisnya sedalam mungkin Cukup lama ia melakukan gerakan menekan dan memutar liang itu. Beberapa menit berlalu sebuah erangan panjang keluar dari mulut Asty.

Ooooughhhhhhh..... ough.... ooooohhhhhhhhh..... Paaak...... Tubuhnya mengejang, kakinyapun menekan pinggul Pak Johan. Cengkeraman kukunya di lengan Pak Johan menandakan ia telah orgasme untuk kesekian kalinya, setelah dua kali diperkosa, tiada lagi daya dalam diri Asty untuk mengimbangi Pak Johan. Melihat kejadian itu Pak Johanpun lalu mempercepat gerakannya, Pak Johan meningkatkan tempo goyangannya, penis yang besar dan berurat itu menggesek dan menekan klitoris Asty ke dalam setiap kali menghujam. Kedua payudaranya yang membusung tegak itu ikut berguncang hebat seirama guncangan badannya. Pak Johan meraih yang sebelah kanan dan meremasnya dengan gemas. Gairah Asty mulai bangkit lagi, dia merasakan kenikmatan yang berbeda dari biasanya, yang tidak didapatnya saat bercinta dengan Alex, tanpa disadari dia juga ikut menggoyangkan pinggulnya seolah merespon gerakan Pak Johan.

Tapi Belum lagi sempat Asty menarik napas, Pak Johan dengan kasar mengangkat dan membalikan tubuh Asty, Pak Johan membuat Asty sekarang dalam posisi menungging. Pantat Asty terangkat tinggi, sedangkan kepalanya tertunduk ke kasur dan badannya bertumpu pada kedua lutut dan tangannya. Tiba-tiba Pak Johan dengan kasar dan dalam tempo yang cepat mulai kembali memompa vagina Asty.

Aaaaghh... egghhhh... ..sakiiit... . teriak Asty mendapat perlakuan kasar dari Pak Johan.

Mendengar itu Pak Johan malah semakin bersemangat dan semakin keras menghajar vagina Asty dengan penisnya dari belakang. Tangan Pak Johan memegang pinggang Asty dan mulai menarik maju mundur badan Asty, sehingga pompaan penisnya dalam vagina Asty semakin keras dan cepat. Mendapat perlakuan demikian, Asty hanya bisa mengerang-erang keras, tangannya kembali meremas-remas kasur. Badan Asty maju mundur mengikuti pompaan keras penis Pak Johan. Setiap kali Pak Johan memasukkan penisnya sampai mentok ke vagina Asty, terdengar teriakan Asty.

AAHGHH... ..AAGHHHH... .AGHHH... teriak Asty berulang-ulang. Semakin cepat lagi Pak Johan memompa penisnya semakin keras erangan Asty. Kemudian Pak Johan merubah posisinya yang tadinya berlutut menjadi berjongkok di belakang Asty. Posisi itu membuat Pak Johan dapat makin cepat lagi memompa vagina Asty dari belakang dan membuat penisnya dapat makin keras menekan vagina Asty, meskipun sebenarnya penis yang besar itu sudah mentok di dalam vagina Asty. Pak Johan tidak mengurangi kecepatan pompaan penisnya dan tetap menjambak rambut Asty.

Aaaaahh... uuuuhh... ... ..aaaaahhhh... .eeeeehhhgggh.... teriak Asty makin keras menggema di tengah hutan itu. Penis Pak Johan yang besar terlihat makin cepat keluar masuk vagina Asty yang masih sempit itu. Tangan kanan Pak Johan makin keras menjambak rambut Asty.

Asty dalam posisi demikian tidak dapat berbuat apa-apa selain mengikuti irama permainan Pak Johan. Mengikuti apa maunya Pak Johan, beberapa menit bermain cepat, kemudian melambat dan menjadi cepat lagi.

Wajah Asty yang terdongak karena jambakan Pak Johan pada rambutnya menunjukkan betapa Asty sebenarnya menikmati perlakuan kasar Pak Johan. Mata Asty merem melek dan mulutnya terbuka lebar menikmati serbuan penis Pak Johan dari belakang. Tangan Asty makin keras meremas-remas kasur, payudaranya yang padat bergantung dan bergoyang keras ke depan dan ke belakang, vaginanya sudah sangat basah, cairan vaginanya yang bercampur sperma bukan saja meleleh banyak di kedua paha bagian dalamnya tapi sedikit-sedikit mulai menetes ke kasur yang dijadikan alas.

Setengah jam lamanya Pak Johan menyetubuhi Asty. Dan diperlakukan demikian, sudah tidak terhitung berapa kali Asty mencapai orgasme. Cairan kewanitaannya semakin deras membasahi kedua paha dalamnya, kakinya sudah mulai bergetar karena terlalu letih dan orgasme yang berulang-ulang. Sementara Pak Johan masih saja terus menggenjotkan penisnya seolah tidak akan berhenti, sampai akhirnya ketika Asty orgasme lagi, Pak Johan mengejang kuat-kuat. Sambil menyentakkan penisnya ke dalam vagina Asty kuat-kuat, Pak Johan melenguh keras.

AAAAHHHHKKKHHHH...! Pak Johan merasakan kenikmatan yang luar biasa menghantam sekujur tubuhnya, dan seketika itu pula spermanya menyembur dengan sangat deras di dalam rahim Asty. Seketika didorongnya tubuh Asty sehingga tertelungkup di kasur, sementara dia sendiri terkapar terengah-engah merasakan kenikmatan yang luar biasa menyetubuhi gadis yang begitu cantik dan seksi seperti Asty.

Dan selama sehari semalam, ketiga orang mantri hutan itu memperlakukan Asty tidak lebih dari budak nafsu yang harus siap melayani nafsu seksual mereka bertiga. Selama sehari semalam mereka tidak mengijinkan Asty untuk berpakaian barang selembarpun. Mereka juga memaksa Asty untuk menjadi pelayan di pondokan mereka, tentunya dengan tetap telanjang bulat. Dan semalaman, mereka bertiga memaksa Asty untuk melakukan hubungan seksual dengan berbagai gaya dan cara yang bisa mereka praktekkan pada tubuh Asty. Mereka baru menyudahi pesta seksual tersebut sekitar jam 4 pagi setalah Asty benar-benar tidak kuasa lagi bergerak. Mereka berempat kemudian tertidur di lantai beralas karpet usang tanpa busana. Pak Johan tidur sambil menggenggam payudara Asty, Pak Arman dan Pak Man tidur di sebelahnya. Sementara Alex dibiarkan saja masih terikat di luar ruangan, hanya mengenakan selembar celana dalam, menahan dingin, lapar dan haus.

Tamat

Gara-Gara Harnet

Aku, sebut saja Anto, sulung dari tiga bersaudara dan dibesarkan dalam keluarga dimana ayahku begitu disiplin mendidik kami dalam masalah tatakrama ketimuran, jadi jangankan berkata jorok, berbicara yang kurang sopan saja sudah didampratnya. Karena itu ketika aku menjelang remaja, tepatnya ketika aku berusia 15 tahun, dorongan masa puberku sering kulampiaskan dengan membaca cerita porno, tentu saja dengan main 'kucing-kucingan' agar tidak ketahuan oleh ayahku. Kemudian menjelang tidur aku sering membayangkan kembali cerita-cerita tersebut sambil mengelus-elus penisku sampai terkadang mencapai orgasme. Dalam membayangkan, disana belum terlintas tipe wanita seperti apa, pokoknya aku hanya membayangkan sedang bercinta dengan lawan jenis dan kulakukannya seperti dalam cerita yang kubaca.

Suatu saat di rumah kami kedatangan tamu, teman ibuku semasa dia kecil dulu. Namanya Rohana dan ibu memperkenalkan kepada kami anak-anaknya sebagai Bulik Anna. Usianya tidak terpaut jauh dengan usia Ibuku yang ketika itu berusia 36 tahun. Dalam berpakaian, Bulik Anna selalu nampak rapi dengan khas Jawanya. Rambutnya yang panjang lebat senantiasa digelung, body-nya padat dengan kulitnya yang mulus. Menurut cerita ibu, ia dulu bekas penari dan rencananya akan tinggal di rumah kami cukup lama sambil mengurus usahanya di kota Jakarta.

Awal-awal Bulik Anna berada di rumah kami, nampak biasa-biasa saja, hanya aku, disela-sela kesempatan sering mencuri pandang, apalagi jika dia sedang memakai daster dan buah dadanya yang besar tampak menyembul. Wah, betapa nikmatnya kalau dapat kuremas-remas. Otakku terkadang menjadi ngeres dan sering tubuh Bulik Anna yang padat berisi kumasukkan dalam lamunan seksku. Namun tentunya aku tidak berani berbuat jauh dari itu, apalagi perangai Bulik Anna sangat sopan terhadap kami-kami ini, sehingga betapapun perasaan ini bergemuruh, senantiasa kusimpan dalam-dalam ketika berbicara dengannya.

Hingga pada suatu hari, kelasku diliburkan karena gurunya akan mengadakan rapat persiapan ujian. Karena libur, hari itu aku bangun agak siang. Ketika aku akan ke kamar mandi di ruang tengah, tampak Bulik Anna sedang asyik membaca majalah.

"Selamat pagi Bulik..!" sapaku.
"O.., Selamat pagi To, koq ngga sekolah..?" jawab Bulik Anna dengan suara merdunya.
Sambil kuhentikan langkahku sejenak, aku bertanya lagi, "Koq sepi ya, yang lain pada kemana?"
"Ibumu tadi pamit untuk mengikuti kegiatan PKK, katanya akan ada basar sampai sore, makanya Bi Sumi (pembantu) juga diajak tuh..!"
"O.. begitu, Bulik sendiri tidak pergi?" tanyaku lagi.
"Nanti.. kira-kira jam sembilan memang saya ada janji, sekarang kan baru jam delapan, sekarang kamu mandi dulu deh, nanti kita sarapan sama-sama."

Setelah mandi aku tetap berpakaian rumah, karena memang aku tidak ada rencana kemana-kemana, sementara tampaknya Bulik Anna kembali ke kamarnya untuk berdandan sebelum kami sarapan.Tapi tiba-tiba Bulik Anna memanggilku, "To, Anto.. coba kesini sebentar..!"
"Ya Bulik..," aku langsung menuju ke kamarnya, "Ada apa Bulik..?" tanyaku.
"Ini lho rambut Bulik, sulit dibuka sanggulnya, mungkin harnetnya (jaring pembungkul sanggul)tersangkut sama jepitannya, tolong dong bantu lepaskan..!"
Aku dengan sigap segera membantu Bulik membongkar sanggulnya.

Setelah agak lama kuusut jepitan dan harnet yang tersangkut, akhirnya sanggul Bulik Anna dapat terbuka dan seketika rambut Bulik Anna yang lebat dan wanggi tergerai, membuat perasaan berdesir terkena serbakan rambutnya. Aku tidak segera melepaskan tanganku di rambut tersebut, malah jari-jariku kugunakan sebagai pengganti sisir untuk meluruskan rambutnya yang kusut. Bulik Anna tidak berkata apa-apa, hanya terkadang kepalanya digerak-gerakkan, sehingga aku makin leluasa mempermainkan rambutnya.

Sambil memainkan rambutnya, khayalan seksku makin menjadi-jadi, apalagi setelah menyibak rambut Bulik Anna, terlihat tengkuknya yang putih mulus.
Sampai tiba-tiba lamunanku terhentak oleh suara Bulik Anna, "Kenapa To, kamu senang ya dengan rambut Bulik..?"
Aku sempat gugup, "Oo.. eh.. iya, rambut Bulik bagus sekali." jawabku sekenanya.
"Ah kamu bisa aja, dulu rambut Bulik lebih panjang lagi dan sering dibuat ekor kuda."
"Saya mau koq diajarin bikin rambut ekor kuda." jawabku karena dalam hati agar aku dapat lebih lama lagi bermain dengan rambut Bulik Anna.

Tanpa menjawab, Bulik Anna langung mempraktekkan. Dia membagi dua rambutnya, tangganku mengikuti gerakannya. Belahan rambut yang satu tetap di belakang, sementara belahan yang satunya dipindahkan ke depan. Tanganku tetap dibimbingnya, sehingga ketika meletakkan belahan rambut yang depan, tubuhku tambah merapat ke tubuh Bulik Anna. Sementara tanganku sempat menyentuh payudara Bulik Anna yang hanya terlapisi dasternya. Tegangan semakin tinggi, dan senggaja tubuhku semakin kurapatkan ke tubuhnya, sehingga penisku yang sejak tadi sudah bangun di balik celana kugesek-gesekkan ke pantatnya. Bulik Anna tampaknya juga menangkap usahaku, tapi dia pura-pura tidak memperdulikan, malah kini tanganku yang masih memegang belahkan rambutnya di belakang dipindah ke depan dua-duanya, sehingga posisinya seperti dia akan menggendongku.

Melihat gelagat seperti itu, kedua tanganku yang tadinya menggengam rambut kulepaskan, namun kuremas-remas rambut tersebut di atas kedua payudaranya, sementara wajahku kutempelkan ke tengkuknya yang putih mulus. Nafasku semakin tidak beraturan, sementara Bulik Anna membalas. Tangan sudah bereaksi melorotkan celana pendek dan CD-ku sambil menyambar penisku yang sudah tegang. Kedua belahan rambutnya kini kususupkan ke dalam dasternya yang ternyata dia tidak memakai BH, sehingga langsung bersentuhan dengan kedua payudara Bulik, dan tanganku semakin leluasa meremas-meremas rambut dan payudara sekaligus sambil tengkuknya kuciumi.

Bulik Anna yang sudah mulai terangsang, tanpa berkata-kata langsung membalikkan badan. Penisku yang dari tadi dipegangnya langsung dikocok-kocok dengan lembut, kemudian dia berjongkok menjilatinya. Sementara itu tangganku tetap mempermainkan rambutnya yang lebat tergerai.
"Auh.. uh..!" rintihku menahan kenikmatan, sementara Bulik sibut dengan aktivitasnya.
Pennisku dikulum-kulum bak "lolypop", "Ah.. auh.. Bulik.., Aku sudah ngga tahan nih..!"
Dia tidak menjawab, malah semakin keras menyedot penisku. Tubuhku semakin mengejang dan tanpa dapat kubendung lagi, muncratlah cairan putih kental ke mulutnya sambil tanganku tetap menjambak rambutnya yang sudah tergerai tidak beraturan.

Betapa rasanya di awang-awang, karena baru pertama kali kualami. Ia telan habis air maniku, sementara aku tetap berdiri kaku, ya nikmat, ya malu, ya bingung, ya takut.
Bulik Anna berdiri, dia tersenyum melihat tingkahku yang salah tingkah.
"Tidak usah takut To.. Khan cuma Bulik yang tahu.., gimana rasanya?"
"Wah, luar biasa Bulik, tapi saya takut nih..!" jawabku dengan perasaan yang belum tenang.
"Sudahlah.., Bulik maklum koq, kamu tenangkan dulu pikiranmu, nanti Bulik ajarkan pelajaran kedua yang jauh lebih enak."
Kemudian ia menciumku dengan lembut, lalu membimbingku duduk di tepi ranjangnya. Kami berpelukan. Bulik kembali menciumku, kemudian melumat bibirku, sementara tangannya kembali mengelus-elus penisku yang masih 'mengkeret' ketakutan.

Tapi kali ini aku sudah mulai berani. Kini sambil berciuman, tanganku sudah merambah ke tali daster batiknya, kulepas ikatan daster Bulik sehingga merosot ke bawah, kupermainkan lagi rambut dan payudaranya. Bulik Anna melepas ciuman di bibirku, namun ia menekan kepalaku ke bawah dan mengarahkan ke payudaranya. Aku mulai menjilati putingnya yang menyembul di sela-sela rambutnya. Puas berputar di sekitar payudara dengan tetap membekap kepalaku, Bulik mencoba berdiri, sehingga posisi wajahku persis berhadapan dengan vaginanya yang tersamar rambut tipis. Semerbak wangi vagina Bulik kembali membuatku terangsang, kujilati semua permukaan vagina yang sudah mulai basah.

Kemudian dia merebahkan diri di ranjang, tangannya mendekap kepalaku. Pahanya dibuka, sehingga memudahkan aku menjilat dan memasukkan lidahku ke dalam vaginanya. Tubuh Bulik Anna bergerak-berak sambil sesekali merintih. Aku yang belum mengerti tehnik bercinta, terus saja melumat vaginanya sekenaku, sehingga tubuh Bulik semakin mengejang.
"Ayo.. To..! Teruskan.., teruskan..!" pintanya diikuti desah nafasnya.

Setelah hampir lima menit kusapu vaginanya dengan lidahku, aku berusaha melepaskan dekapan di kepalaku. Bulik tampak kaget, tapi segera kulepaskan daster Bulik yang belum sepenuhnya tanggal dari tubuhnya, dan ia pun segera melepas kaos yang kukenakan, sehingga kami berdua benar-benar dalam keadaan telanjang. Kuelus lagi vagina Bulik yang tampak basah dan memerah, penisku juga diraihnya, lalu dibimbing masuk ke lubang tersebut.
"Sleb.. sleb..!" kuputar-putar di dalam, mengikuti goyangan pantat Bulik.
Sambil kupompa, bibir kami terus bertautan dan tanganku meremas-meremas payudaranya yang masih tertutup rambutnya.

Aduh ..to, terus.. pompa terus to, sambil tangan Bulik meremas pantatku. Penisku rasanya semakin mengeras, sementara vaginanya terasa berdenyut..mungkin lebih dari sepuluh menit kami berpautan.. oh..to..oh..enak..to.., aduh aku ngga tahan nih..biarkan disitu, rintih Bulik anna.., Akupun semakin menekan penisku..sampai tubuh kami mengejang dan.. menyemburlah airmaniku untuk kedua kalinya dilobang milik Bulik anna yang satu ini.Kami menikmati puncak orgasme sampai benar-benar habis, dan baru kucabut penisku setelah kami berdua kelelahan. Aku turun ke sebelah tubuh Bulik Anna dan berbaring di sebelahnya.
Kemudian Bulik Anna memelukku sambil berkata, "Terima kasih ya.. To, ternyata kamu 'murid' yang pandai yach..!"
"Tapi kalau ketahuan Ibu gimana nih..?"
"Ala.., ngga usah kuatir, Bulik akan jaga penampilan di depan Bapak Ibumu seperti biasanya."
"Lalu Bulik ngga jadi pergi..? Sudah jam setengah sepuluh lho..!" kataku mengingatkan.
"Ah.. biar saja, lebih baik aku menemani kamu belajar hari ini..!" katanya sambil mencubit pipiku.

Setelah beristirahat kira-kira sepuluh menit, lalu 'pelajaran' pun dilanjutkan, sampai-sampai kami lupa bahwa gara-gara harnet jadi tidak ingat sarapan. Dan pada hari-hari selanjutnya, setiap ada kesempatan, kami mengulangi pelajaran tersebut, sampai akhirnya Bulik Anna pamit kembali ke desanya.

Itulah pengalamanku ngeseks pertama kali. Dan sampai kini, meskipun usiaku sudah lebih dari 40, namun jika melihat wanita berambut panjang dan lebat, gairah seksku langsung meningkat, teringat pengalaman dengan Bulik Anna.

Tamat